faktual.news – Rusia kini dihadapkan pada gonjang-ganjing kelangkaan bahan bakar minyak di sejumlah wilayah, sebuah dampak langsung dari terganggunya jalur logistik akibat konflik berkepanjangan dengan Ukraina. Semenanjung Krimea, yang berada di bawah kendali Rusia, menjadi salah satu titik paling parah terdampak, di mana stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan mengering tanpa setetes pun bensin. Situasi ini memburuk seiring intensifnya serangan Ukraina terhadap rute-rute pasokan vital ke wilayah tersebut.
Serangan drone Ukraina yang kian masif belakangan ini telah melumpuhkan jalur distribusi ke Krimea, wilayah yang direbut Moskow dari Kyiv pada tahun 2014. Kondisi ini memaksa otoritas setempat memberlakukan pembatasan ketat dalam penyaluran BBM, bahkan beberapa bahan pangan pokok pun mulai menipis.

Seorang warga di Sevastopol, kota terbesar di Semenanjung Krimea, mengungkapkan bahwa mayoritas SPBU di sana telah kehabisan stok. Kelangkaan ini membuat sistem penjatahan yang diberlakukan dalam beberapa minggu terakhir sulit dipenuhi. Biasanya, pasokan BBM tiba di Krimea melalui kapal tongkang menuju terminal minyak di Kota Feodosia. Namun, jalur ini terhenti total setelah Ukraina melancarkan serangan terhadap terminal tersebut pada bulan April lalu.
Gubernur Sevastopol, Mikhail Razvozhaev, mengakui adanya penundaan dalam distribusi BBM. Ia menjelaskan bahwa truk-truk pengangkut bahan bakar tidak dapat menjangkau kota akibat serangan Ukraina yang menargetkan rute-rute pasokan. Razvozhaev, yang ditunjuk Moskow, juga menyebutkan bahwa meskipun 33 drone Ukraina berhasil ditembak jatuh semalam, serangan tersebut tetap menimbulkan kerusakan ringan. Di Kota Yevpatoriya, saksi mata melaporkan antrean panjang mengular di depan satu-satunya SPBU yang masih beroperasi.
Sebagian besar BBM kini disalurkan ke Krimea melalui jalur darat dan kereta api, melintasi wilayah utara yang dikuasai Rusia sejak tahun 2022. Namun, rute-rute ini pun tak luput dari gangguan akibat serangan drone yang terus-menerus. Kelangkaan BBM di Rusia telah menjadi sorotan media dan perbincangan hangat di media sosial di berbagai daerah. Selain Krimea, dua wilayah di Siberia secara resmi mengonfirmasi krisis serupa, sementara daerah lain mengklaim situasi terkendali dan gangguan terjadi akibat pembelian panik.
Gubernur Kherson, kota yang dikuasai Moskow dan berbatasan langsung dengan Krimea di utara, juga melaporkan bahwa Ukraina telah menargetkan jembatan-jembatan di wilayahnya, menyebabkan kerusakan signifikan.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Rusia melalui Wakil Perdana Menteri Alexander Novak menyatakan telah mengeluarkan instruksi untuk membentuk sistem peramalan. Sistem ini diharapkan dapat mengantisipasi kesulitan dalam distribusi bahan bakar dan menjamin terpenuhinya kebutuhan domestik. "Alexander Novak telah menginstruksikan pembentukan model peramalan perkembangan situasi pasar bahan bakar di tingkat regional, dengan rincian semua parameter yang mungkin," demikian pernyataan resmi pemerintah. Inisiatif ini diharapkan mampu mengidentifikasi titik-titik kemacetan dan memungkinkan pengambilan langkah-langkah pencegahan.
Dari pihak Ukraina, Komandan Dmytro Filatov mengklaim pasukannya berhasil menyerang Jembatan Chonhar, sebuah rute krusial antara Krimea dan wilayah Kherson, yang mengakibatkan kerusakan parah dan menghentikan lalu lintas. Ia juga menyebutkan serangan terhadap Kota Armiansk, sebuah daerah di selat sempit yang menjadi satu-satunya jalur darat ke daratan utama, berhasil menghancurkan truk pengangkut bahan bakar dan amunisi. Kyiv juga melancarkan serangan di selatan Rusia semalam, menyebabkan kerusakan termasuk kebakaran di kilang minyak Afipsky yang kini telah berhasil dipadamkan.


