Faktual.news – Peta kekuatan ekonomi Indonesia menunjukkan dinamika yang sangat menarik sepanjang paruh pertama tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,45 persen ternyata tidak berdiri sendiri, melainkan didorong oleh performa gemilang dari berbagai wilayah di tanah air. Menariknya, terdapat 17 provinsi dari total 38 provinsi yang mampu mencatatkan angka pertumbuhan melampaui rata-rata nasional.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam keterangannya di acara Mata Lokal Fest 2026 di Jakarta Pusat, menjelaskan bahwa angka pertumbuhan nasional merupakan akumulasi dari kinerja ekonomi di tingkat daerah. Ia menekankan bahwa keberhasilan ekonomi nasional sangat bergantung pada seberapa kuat kontribusi provinsi-provinsi di dalamnya.

"Saat ini, ada 17 provinsi di Indonesia yang ekonominya sudah tumbuh di atas angka ekonomi nasional," ungkap Amalia.
Data BPS menunjukkan bahwa motor penggerak ekonomi ini tidak hanya bertumpu pada Pulau Jawa, melainkan tersebar merata dari ujung barat hingga timur Indonesia. Maluku Utara muncul sebagai primadona dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat fantastis, yakni mencapai 17,43 persen. Angka ini jauh melampaui rata-rata nasional dan menunjukkan dominasi sektor tertentu di wilayah tersebut.
Selain Maluku Utara, sejumlah daerah lain juga mencatatkan pertumbuhan dua digit atau mendekati angka tersebut. Nusa Tenggara Barat menyusul dengan pertumbuhan 10,42 persen, disusul oleh Kepulauan Riau sebesar 7,02 persen, Gorontalo 6,94 persen, Sulawesi Tengah 6,84 persen, Sulawesi Selatan 6,22 persen, dan Sulawesi Tenggara 6,21 persen.
Di wilayah lain, pertumbuhan positif juga terlihat di Kalimantan Barat (5,87%), Jawa Timur (5,84%), Jawa Tengah (5,80%), DI Yogyakarta (5,80%), Jawa Barat (5,76%), Bali (5,68%), Banten (5,57%), DKI Jakarta (5,55%), Sulawesi Utara (5,48%), serta Kalimantan Selatan (5,47%).
Amalia menjelaskan bahwa kunci utama di balik lonjakan ekonomi di beberapa provinsi, seperti Maluku Utara, adalah keberhasilan program hilirisasi. Dengan menggerakkan industri manufaktur di daerah, nilai tambah komoditas mentah meningkat drastis, yang pada akhirnya memacu pertumbuhan ekonomi lokal secara signifikan.
Fenomena serupa juga terlihat di tingkat kabupaten dan kota. BPS mencatat bahwa daerah dengan pertumbuhan di atas 6 persen didominasi oleh Pulau Jawa (39 kabupaten/kota), disusul Sulawesi (29 kabupaten/kota), dan Sumatra (9 kabupaten/kota).
Hal yang paling penting untuk dicatat adalah bahwa pertumbuhan pesat ini tidak selalu harus bergantung pada sektor pertambangan. Amalia memberikan contoh nyata bagaimana inovasi dan teknologi menjadi kunci. Kabupaten Ngawi di Jawa Timur, misalnya, mampu tumbuh hingga 8,14 persen berkat penerapan smart farming dan penggunaan drone oleh petani muda di lahan pertanian berkelanjutan.
Contoh lainnya adalah Kabupaten Sidrap di Sulawesi Selatan yang tumbuh 6,85 persen melalui modernisasi peternakan ayam bertelur berbasis teknologi tinggi serta optimalisasi industri olahan beras porang.
"Intinya, jika sebuah daerah ingin tumbuh tinggi, tidak harus selalu berbasis tambang. Selama mereka mampu meningkatkan produktivitas sumber daya alam lainnya dan menciptakan nilai tambah melalui inovasi, ekonomi daerah pasti akan melaju," pungkas Amalia.


