Faktual.news – Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkokoh posisi data nasional di kancah internasional. Dalam upaya memperkuat ekosistem data global, BPS secara resmi memperluas jangkauan kerja sama pengembangan statistik dengan sejumlah negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Langkah besar ini dilakukan dalam rangkaian Sidang ke-15 Organisation of Islamic Cooperation Statistical Commission (OIC-StatCom) yang berlangsung di Arab Saudi pada akhir September lalu.
Delegasi Indonesia yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, membawa misi penting untuk memaparkan keberhasilan transformasi statistik nasional. Dalam forum bergengsi tersebut, Indonesia menyoroti tiga agenda utama yang menjadi fondasi kekuatan data nasional, yakni modernisasi sensus penduduk dan perumahan, persiapan implementasi System of National Accounts 2025 (SNA 2025), serta pemantauan capaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama terkait akses sanitasi dan air bersih.

Sonny menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang pertemuan formal, melainkan ruang krusial untuk bertukar pengalaman dan praktik terbaik antar-lembaga statistik nasional (National Statistical Office/NSO) di negara-negara anggota OKI. Menurutnya, kolaborasi ini sangat penting untuk mendukung pengembangan statistik resmi negara serta membangun ekosistem data, baik di tingkat nasional maupun internasional, agar berjalan lebih efektif dan akurat.
Di sela-sela agenda sidang, BPS juga bergerak cepat menjalin komunikasi bilateral dengan lembaga statistik terkemuka dunia. Beberapa mitra strategis yang diajak berkolaborasi antara lain Turkish Statistical Institute (TURKSTAT), General Authority for Statistics (GASTAT) Arab Saudi, Central Agency for Public Mobilization and Statistics (CAPMAS) Mesir, hingga lembaga keuangan internasional Islamic Development Bank (IsDB).
Fokus kerja sama ini sangat spesifik dan relevan dengan kebutuhan ekonomi global saat ini, mulai dari pengembangan statistik halal, penghitungan PDB berbasis syariah, hingga sinkronisasi data ekspor-impor. Selain itu, BPS juga membahas mengenai statistik haji dan umrah serta penyempurnaan metode penghitungan kemiskinan multidimensi agar lebih presisi.
Salah satu pencapaian signifikan dalam pertemuan tersebut adalah penandatanganan nota kesepahaman antara BPS dan TURKSTAT. Kerja sama ini akan berfokus pada modernisasi sensus, integrasi data administrasi, hingga percepatan transformasi digital di sektor statistik.
Tak hanya itu, Indonesia juga membagikan pengalaman berharga mengenai pemanfaatan data administrasi sebagai persiapan Sensus Penduduk 2030. Salah satu poin menarik yang dibahas adalah hasil Experimental Time Use Study 2023. Studi ini mengungkap fakta penting mengenai nilai tambah jasa rumah tangga tidak dibayar yang selama ini sering terabaikan. Berdasarkan data tersebut, nilai ekonomi dari pekerjaan rumah tangga ini diperkirakan mencapai 13,63 persen dari total PDB Indonesia pada tahun 2023, sebuah angka yang sangat signifikan bagi struktur ekonomi nasional.


