faktual.news – Harga minyak global menunjukkan tren penurunan signifikan pada perdagangan Jumat, 25 September, setelah sempat melonjak tajam. Pelemahan ini dipicu oleh optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun serangan kelompok Houthi di wilayah Arab Saudi masih terus berlangsung. Minyak jenis Brent North Sea terkoreksi 0,69 persen atau 74 sen, mencapai level US$105,85 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) juga ikut melemah 0,86 persen atau 81 sen, diperdagangkan di angka US$93,8 per barel.
Pelemahan harga ini terjadi setelah seminggu penuh gejolak. Sebelumnya, pada Kamis, harga minyak dunia sempat mencetak rekor kenaikan tertinggi, dengan kontrak kedua jenis minyak meroket hingga 5 persen. Brent bahkan ditutup menguat 3,4 persen, menjadi level tertinggi sejak 15 September. Sedangkan WTI, setelah sempat anjlok 13 persen dalam enam sesi perdagangan terakhir, berhasil bangkit 2,7 persen pada hari Kamis. Namun, secara keseluruhan dalam sepekan, WTI masih mencatat penurunan 6,42 persen, sementara Brent tetap menguat 2,09 persen.

Fokus pasar kini tertuju pada pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran yang sedang berlangsung di New York. Para negosiator kedua negara berupaya mencari solusi bertahap untuk mengakhiri konflik. Kesepakatan yang diharapkan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi Iran oleh Washington. Tim Waterer, Kepala Analis KCM Trade, menyoroti bahwa "harapan diplomatik secara fundamental membantu harga minyak menghadapi serangan militer terbaru di Timur Tengah, membuat minyak mentah diperdagangkan sedikit lebih rendah meskipun ada serangan."
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dan gas dunia mengalami gangguan parah. Kondisi ini sempat mendorong harga minyak melonjak hingga 50 persen hanya dalam bulan Maret, memaksa pembeli gas alam cair (LNG) untuk mencari sumber pasokan baru yang lebih stabil dan jauh.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis, menegaskan bahwa keputusan untuk mengakhiri perang sepenuhnya berada di tangan Amerika Serikat. "Amerikalah yang harus memilih apakah mereka ingin mengakhiri ini atau tidak," ujarnya.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah masih membayangi. Arab Saudi melaporkan telah berhasil mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi dari Yaman. Serangan tersebut menargetkan wilayah selatan Taif dan kawasan Yanbu di Laut Merah, menurut koalisi pimpinan Arab Saudi. Waterer menambahkan, "Serangan yang terus berlangsung menjadi pengingat jelas bahwa aset minyak penting masih berada dalam garis tembak." Sebagai respons, Arab Saudi tengah meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui East-West Pipeline menuju pusat ekspor Yanbu di Laut Merah, meskipun proses pemuatan minyak ke kapal tanker belum kembali dimulai.


