faktual.news – PT MRT Jakarta (Perseroda) siap menggebrak Ibu Kota dengan deretan proyek ambisius yang akan mengubah lanskap perkotaan secara fundamental. Tak hanya sekadar operator transportasi, MRT kini menjelma menjadi arsitek kawasan, dengan rencana matang untuk mengembangkan 10 titik strategis berbasis Transit-Oriented Development (TOD) di sepanjang koridornya. Ini bukan sekadar pembangunan biasa, melainkan visi besar untuk menciptakan jantung-jantung kota baru yang berdenyut.
M Iqbal Bimo Arifianto, Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta, mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. "Ke depan, kami tidak hanya mengelola layanan transportasi, tetapi juga akan mengoperasikan dan mengelola aset-aset baru seperti Pedestrian Deck dan Extended Concourse," jelas Bimo dalam sebuah lokakarya di Kantor MRT Jakarta Pusat. Fokusnya adalah pengelolaan kawasan secara menyeluruh, mulai dari penataan tenant hingga aktivasi kegiatan komunitas.

Pengembangan masif ini bertujuan untuk mendongkrak geliat ekonomi, memperlancar mobilitas warga, menguatkan konektivitas antarwilayah, serta memaksimalkan potensi lahan di sekitar koridor MRT. Jakarta akan disulap menjadi kota yang lebih hidup dan terintegrasi.
Salah satu permata dalam daftar proyek adalah "Ultimate Development Blok M". Ini merupakan evolusi lanjutan dari Blok M Hub yang sudah dikenal. Bimo mengisyaratkan bahwa proyek ini sedang digodok dan menjadi salah satu primadona pengembangan yang disiapkan MRT. "Blok M, yang saat ini menjadi Blok M Hub, mungkin tunggu tanggal mainnya. Ultimate Development Blok M ini masih dalam progres, dan kemungkinan akan diluncurkan setelah Pedestrian Deck," ungkapnya. Sebelumnya, MRT telah membuka peluang kerja sama dengan investor untuk pengembangan berskala lebih besar, termasuk kemungkinan pembangunan gedung bertingkat atau menara.
Tak kalah menarik, Lebak Bulus juga akan mengalami transformasi signifikan melalui proyek "Lebak Bulus Park & Ride and Mixed Use". Aset parkir dan transit ini akan diubah menjadi kawasan multifungsi. Bimo menjelaskan bahwa fungsi park and ride akan tetap dipertahankan untuk beberapa tahun ke depan, sebelum dikembangkan lebih lanjut. "Kami masih menjajaki kolaborasi dengan mitra. Konsepnya mungkin akan seperti Blok M, di mana kami berinvestasi dan mencari mitra kerja sama. Konektivitas menjadi kunci utama, jadi kami ingin ada jembatan penghubung dari Stasiun Lebak Bulus ke kawasan ini," tambahnya. Rancangan kawasan multifungsi di Lebak Bulus masih dalam tahap pematangan, meliputi potensi hunian atau fungsi lain sesuai kebutuhan.
Kawasan Kota Tua dan Glodok menjadi titik pengembangan terbesar, dengan empat proyek sekaligus yang tercantum: The Heritage Hub Kalibesar, UPK Kota Development, Lada Development, dan Combined Building Kota Tua. Ditambah lagi dengan XGL Mixed-Use Glodok-Kota, menjadikan koridor ini sebagai klaster pengembangan utama. Bimo menyebut bahwa pengembangan di Kota Tua masih dalam fase perancangan awal dan eksplorasi kemitraan dengan para pemilik lahan, seiring dengan rencana perluasan jaringan MRT menuju Kota yang diperkirakan rampung pada 2029.
"Untuk Kota Tua, ini memang tahapan yang cukup panjang karena MRT baru sampai Monas tahun depan, dan kami targetkan 2029 baru sampai Kota. Jadi, kami merencanakan agar pada 2029 saat MRT sudah tiba di sana, kami sudah siap mengelolanya," tutur Bimo. MRT telah berdiskusi dengan berbagai pihak terkait empat aset atau kawasan di sekitar Kota Tua, baik dari pemerintah maupun swasta. Konsep pengembangannya belum final, namun MRT akan menggunakan metode ‘Kenali Kebutuhan Pengguna’ (KYC) untuk merancang fungsi kawasan yang relevan dengan karakter dan aspirasi masyarakat, misalnya kombinasi hotel, restoran, dan ruang aktivitas.
Bimo menegaskan bahwa strategi pengembangan ini menandai transformasi dari sekadar manajemen properti menjadi "placemaking" atau penciptaan ruang publik yang berjiwa, dan pada akhirnya, "city making" atau pembangunan kota. "Perjalanan manajemen properti ini tidak berhenti di pengelolaan aset. Kami bergerak menjadi placemaking, place management, dan jangka panjangnya, apa yang kami lakukan akan menjadi bagian kecil dari city making. Kami tidak hanya mengelola properti, kami mengaktivasi tempat," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mewujudkan visi ini mustahil dilakukan MRT seorang diri, mengingat kompleksitas dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pengembang, tenant, komunitas, UMKM, operator transportasi, pemilik gedung, hingga masyarakat luas. Oleh karena itu, dari 10 proyek yang masuk dalam daftar teaser 2026, sebagian besar masih dalam tahap perencanaan atau penjajakan kerja sama, sementara Pedestrian Deck Dukuh Atas dan Extended Concourse Bundaran HI sudah lebih dulu dipaparkan.
Esensi dari semua ini, menurut Bimo, bukan hanya menambah deretan aset milik MRT, melainkan mewujudkan kawasan di sekitar simpul transportasi publik yang berdenyut dengan aktivitas dan terintegrasi dengan denyut nadi masyarakat. "Yang kami bangun bukan hanya aset MRT, yang ingin kita bangun adalah sebuah kawasan," pungkas Bimo.
Berikut adalah daftar 10 proyek yang akan dikembangkan MRT Jakarta:
- The Heritage Hub Kalibesar-Kota Tua
- UPK Kota Development-Kota Tua
- XGL Mixed-Use Glodok-Kota
- Ultimate Development Blok M
- Lebak Bulus Park & Ride and Mixed Use
- Lada Development-Kota Tua
- Combined Building-Kota Tua
- Thamrin Asset Development-Thamrin
- Extended Concourse Bundaran HI
- Pedestrian Deck Dukuh Atas


