faktual.news – Menteri Perdagangan Budi Santoso secara terbuka mengungkapkan harapan besarnya kepada seluruh media di Indonesia. Menurutnya, peran media sangat krusial sebagai penyeimbang informasi terkait harga bahan pokok, demi menjaga stabilitas pasar dan mencegah kepanikan di tengah masyarakat. Budi menegaskan, penyebaran data harga yang tidak disertai konteks memadai berisiko memicu kesalahpahaman publik, bahkan mendorong aksi pembelian panik yang tidak perlu.
Budi menyoroti bagaimana informasi yang beredar dapat membentuk persepsi publik terhadap dinamika harga pangan. Ia memberikan contoh kasus minyak goreng, di mana banderol Rp42 ribu sempat viral tanpa penjelasan detail apakah itu untuk kemasan 1 atau 2 liter. Padahal, harga tersebut sejatinya berlaku untuk kemasan 2 liter. Ketiadaan konteks ini, kata Budi, tak pelak menimbulkan keresahan dan asumsi keliru bahwa harga 1 liter minyak goreng melonjak drastis.

Oleh karena itu, Mendag Budi sangat berharap media massa dapat menyajikan informasi harga dengan lebih komprehensif. Pencantuman detail seperti satuan volume dan wilayah penjualan menjadi esensial agar masyarakat memperoleh gambaran yang akurat. Kejelasan informasi semacam ini, menurutnya, akan sangat membantu mengedukasi khalayak dan mendukung upaya pemerintah dalam menstabilkan harga komoditas pangan.
Lebih lanjut, Budi mengingatkan agar media tidak serta-merta menjadikan harga di satu wilayah sebagai cerminan kondisi nasional. Ia mencontohkan disparitas harga yang signifikan antara Papua dan Jakarta akibat perbedaan faktor distribusi. Melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang dimilikinya, Budi dapat melihat bahwa harga di Papua bisa jauh lebih tinggi dibandingkan ibu kota. Kesalahan dalam menginterpretasikan data regional sebagai tren nasional dapat menyesatkan publik.
Mendag juga mengimbau masyarakat untuk tidak gegabah dalam menyimpulkan tren harga, terutama dari informasi yang beredar di media sosial. Di era digital ini, "bad news is good news" seringkali menjadi pemicu viralitas, tanpa mempertimbangkan keakuratan. Di sinilah media terpercaya diharapkan dapat berperan sebagai filter dan pembanding informasi yang kredibel.
Sistem SP2KP, yang menjadi tulang punggung pemantauan harga pemerintah, kini juga dapat diakses oleh publik. Masyarakat bisa dengan mudah melihat harga komoditas pangan seperti cabai rawit di berbagai provinsi, lengkap dengan rata-rata harga di tingkat nasional. Transparansi data ini, kata Budi, memfasilitasi koordinasi yang efektif antara pemerintah pusat, daerah, dan para pelaku usaha, sekaligus memberdayakan konsumen dengan informasi yang valid.
Akses terhadap data harga yang akurat sangat penting mengingat komoditas pangan termasuk dalam kategori "volatile food" yang pergerakannya sangat cepat. Pemerintah, melalui pemantauan harian, berupaya agar setiap perubahan di lapangan dapat segera teridentifikasi dan tertindaklanjuti. Dengan demikian, Mendag Budi Santoso berharap media dapat terus menjadi mitra strategis dalam menyajikan informasi yang benar, mencegah kepanikan, dan pada akhirnya, turut menjaga stabilitas ekonomi nasional.


