Close Menu
Faktual News

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Nasib Guru Terancam Akibat Tunjangan Macet

    14-10-2026 - 08.55

    Mengapa Penerimaan Negara Kita Kalah Saing

    14-10-2026 - 08.20

    Waktu Indonesia Manfaatkan Bonus Demografi Menipis

    14-10-2026 - 05.55
    FacebookX (Twitter)Instagram
    Faktual NewsFaktual News
    • Home
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Esports
    • Dunia
    Trending
    • Nasib Guru Terancam Akibat Tunjangan Macet
    • Mengapa Penerimaan Negara Kita Kalah Saing
    • Waktu Indonesia Manfaatkan Bonus Demografi Menipis
    • Misteri Ekonomi Abu-Abu di Indonesia
    • Pemerintah Siapkan HP Gratis Untuk Bansos
    • Riyadh Lumpuh Akibat Serangan Rudal
    • Buruh Gelombang Besar Bakal Turun ke Jalan
    • Strategi Hilirisasi Dorong Ekonomi Indonesia
    Faktual News
    Home - Market - Mengapa Penerimaan Negara Kita Kalah Saing
    Market

    Mengapa Penerimaan Negara Kita Kalah Saing

    14-10-2026 - 08.2003 Mins Read0
    mengapa penerimaan negara kita kalah saing

    Faktual.news – Kondisi kesehatan fiskal Indonesia tengah menjadi sorotan tajam setelah terungkapnya fakta bahwa rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih tertinggal jauh dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Fenomena ini memicu kekhawatiran mengenai kapasitas pemerintah dalam membiayai pembangunan nasional di masa depan.

    Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa saat ini rasio penerimaan Indonesia baru menyentuh angka 12 persen. Angka ini dinilai sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan pencapaian negara tetangga seperti Kamboja yang telah mencapai 18 persen, bahkan Vietnam yang sudah melesat hingga ke level 23 persen.

    Mengapa Penerimaan Negara Kita Kalah Saing
    Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

    Dalam forum Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 yang digelar di Jakarta Selatan pada Selasa (13/10), Hashim membedah penyebab utama mengapa Indonesia seolah jalan di tempat. Menurutnya, ketertinggalan ini bukan disebabkan oleh faktor kemampuan sumber daya manusia atau kapasitas ekonomi, melainkan murni karena persoalan tata kelola dan komitmen pemimpin.

    Hashim menyoroti keberhasilan Kamboja yang mampu melakukan lompatan besar. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, Kamboja berhasil menaikkan rasio penerimaannya dari hanya 9 persen menjadi 18 persen. Ia meyakini bahwa kunci utama dari transformasi tersebut adalah adanya kemauan politik (political will) yang kuat dari pemerintah setempat.

    Sebaliknya, kondisi di Indonesia justru menunjukkan hambatan yang berbeda. Hashim mengungkapkan bahwa dirinya dan Presiden Prabowo Subianto merasa frustrasi melihat rendahnya efektivitas penerimaan negara selama ini. Ia menyebut ada dua faktor utama yang menjadi penghambat: ketiadaan kemauan politik yang tegas serta kuatnya resistensi dari pihak birokrasi terhadap berbagai upaya reformasi perpajakan dan keuangan.

    "Inilah salah satu hal yang membuat kami sangat frustrasi. Mengapa? Karena tujuan Presiden Prabowo adalah membawa rasio penerimaan negara Indonesia mencapai level Kamboja dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Kami ingin mencapai 18 persen," tegas Hashim di hadapan para peserta forum, termasuk Wakil Menteri Keuangan Juda Agung.

    Lebih lanjut, Hashim menegaskan bahwa tidak ada alasan logis bagi Indonesia untuk merasa tidak mampu menyamai capaian Kamboja. Mengutip analisis dari Bank Dunia, ia menekankan bahwa secara kapasitas ekonomi dan struktur masyarakat, Indonesia seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Ia menepis anggapan bahwa ada perbedaan kemampuan fundamental antara masyarakat Indonesia dengan negara tetangga.

    "Kita tidak lebih rendah secara rasial dibandingkan masyarakat Kamboja dan mereka juga tidak lebih unggul secara rasial dibandingkan kita. Kita seharusnya mampu melakukannya. Ini murni masalah kemauan politik," tambahnya.

    Jika target jangka pendek untuk mencapai angka 18 persen dapat terealisasi, pemerintah telah menyusun peta jalan yang lebih ambisius. Hashim memproyeksikan bahwa langkah berikutnya adalah mengejar standar Vietnam yang berada di angka 23 persen. Meski demikian, ia secara realistis mengakui bahwa untuk mencapai level Vietnam akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan konsistensi reformasi yang luar biasa.

    Ikuti Kami di Google News
    Share.FacebookTelegramWhatsAppCopy Link
    Putrawan Dian
    Putrawan Dian

      kontributor Faktual News yang mengkhususkan diri dalam pelaporan kategori Market dan Ekonomi Makro. Ia menyajikan analisis mendalam mengenai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar Rupiah, dan kebijakan moneter yang memengaruhi pasar keuangan.

      Baca Juga

      Nasib Guru Terancam Akibat Tunjangan Macet

      14-10-2026 - 08.55

      Waktu Indonesia Manfaatkan Bonus Demografi Menipis

      14-10-2026 - 05.55

      Misteri Ekonomi Abu-Abu di Indonesia

      14-10-2026 - 05.20

      Pemerintah Siapkan HP Gratis Untuk Bansos

      14-10-2026 - 02.55

      Riyadh Lumpuh Akibat Serangan Rudal

      14-10-2026 - 02.20

      Buruh Gelombang Besar Bakal Turun ke Jalan

      13-10-2026 - 23.55
      Add A Comment
      Leave A ReplyCancel Reply

      Recent Posts

      • Nasib Guru Terancam Akibat Tunjangan Macet
      • Mengapa Penerimaan Negara Kita Kalah Saing
      • Waktu Indonesia Manfaatkan Bonus Demografi Menipis
      • Misteri Ekonomi Abu-Abu di Indonesia
      • Pemerintah Siapkan HP Gratis Untuk Bansos

      Recent Comments

      Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

      Archives

      • Oktober 2026
      • September 2026
      • Agustus 2026
      • Juli 2026
      • Juni 2026
      • Mei 2026
      • April 2026
      • Maret 2026
      • Februari 2026
      • Januari 2026
      • Desember 2025
      • November 2025
      • Oktober 2025
      • September 2025
      • Agustus 2025
      • Juli 2025
      • Juni 2025
      • Mei 2025
      • April 2025

      Categories

      • Dunia
      • Esports
      • Market
      • Olahraga
      • Sepakbola
      Faktual News
      • Home
      • Redaksi
      • Pedoman Media Siber
      • Privacy Policy
      • Disklaimer
      • Kontak
      • Tentang Kami
      © 2026 faktual.news | KR Network

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.