Faktual.news – Perhelatan akbar Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia yang dipadukan dengan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026 resmi berakhir dengan catatan prestasi yang gemilang. Acara yang berlangsung selama tiga hari di Jakarta International Convention Center (JICC) ini sukses menarik antusiasme luar biasa, dengan total kunjungan mencapai 30.000 peserta, baik yang hadir secara langsung di lokasi maupun melalui platform daring.
Gelaran prestisius ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Bank Indonesia (BI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), serta Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). Mengusung misi besar untuk mempererat sinergi dan mencetak talenta unggul yang mampu bersaing di kancah global, festival ini menjadi panggung bagi lebih dari 50 pakar ekonomi dan 40 institusi ternama.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, dalam pidato penutupnya menekankan bahwa transformasi ekonomi digital tidak bisa hanya mengandalkan kecanggihan teknologi semata. Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia. "Sinergi yang terbangun menunjukkan bahwa kita membutuhkan talenta-talenta unggul yang mampu menjadi motor penggerak perubahan di tengah arus digitalisasi," tegas Filianingsih.
Sisi menarik lainnya dari festival ini adalah adanya lebih dari 340 agenda business and talent matching. Hal ini membuktikan bahwa ekosistem digital Indonesia kini tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga pada upaya mempertemukan para pelaku usaha, pemerintah, dan talenta muda dalam satu wadah kolaborasi yang produktif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, turut memberikan optimisme tinggi terhadap potensi ekonomi digital tanah air. Ia memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia akan menyentuh angka US$100 miliar pada tahun 2025 dan melonjak drastis hingga US$300 miliar pada tahun 2030. Momentum ini juga diperkuat dengan rencana integrasi kawasan melalui Digital Economy Framework Agreement di tingkat ASEAN.
Di sektor sistem pembayaran, Gubernur BI Destry Damayanti menyoroti keberhasilan perluasan QRIS Antarnegara yang kini telah menjangkau Malaysia, Thailand, Singapura, Korea Selatan, Jepang, hingga Tiongkok. Bahkan, negara-negara seperti India dan Uni Emirat Arab mulai menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama. Hingga Agustus 2026, pengguna QRIS telah menembus angka 69,32 juta orang, di mana mayoritas sebesar 96 persen merupakan pelaku UMKM.
Sebagai langkah konkret memperkuat konektivitas regional, BI juga menandatangani nota kesepahaman dengan Banco Central de Timor-Leste (BCTL) untuk memperluas ekosistem pembayaran digital di kawasan tersebut. Selain itu, inisiatif Indonesia Travel Pack terus diperkuat guna memudahkan wisatawan mancanegara dalam bertransaksi selama berada di Indonesia.
Menutup rangkaian acara, BI juga memberikan apresiasi kepada generasi muda melalui penghargaan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026. Program ini diharapkan mampu mendorong literasi digital sekaligus mempromosikan kekayaan kuliner Nusantara melalui konten kreatif, memastikan bahwa kemajuan teknologi digital dapat dirasakan manfaatnya secara nyata oleh seluruh lapisan masyarakat.


