faktual.news – Sebuah terobosan baru siap mengubah cara pengawasan makanan bergizi gratis (MBG) di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Kepala BGN Sudaryono, memperkenalkan sistem penilaian digital yang inovatif, dirancang khusus bagi para kepala sekolah. Aplikasi ini akan menjadi alat ampuh untuk memastikan kualitas hidangan yang disajikan kepada siswa.
Sudaryono menjelaskan, platform digital ini mengadopsi konsep serupa aplikasi layanan antar makanan daring yang populer. Para kepala sekolah kini memiliki wewenang untuk memberikan ulasan lengkap, mulai dari rating bintang hingga catatan tertulis, langsung kepada penyedia layanan dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ini adalah langkah maju menuju transparansi dan akuntabilitas.

Melalui akun Instagram pribadinya @sudaru_sudaryono, Sudaryono memaparkan bahwa aplikasi tersebut memungkinkan pelaporan berbagai kendala di lapangan. Mulai dari variasi menu yang kurang memuaskan, keterlambatan pengiriman, hingga masalah lain yang mempengaruhi kualitas layanan. "Ini menjadi penting bagi kami untuk menilai tingkat kepuasan konsumen," tegasnya, menekankan pentingnya umpan balik langsung dari sekolah.
Lebih lanjut, Sudaryono juga meluruskan kesalahpahaman tentang peran guru dalam program MBG. Ia menegaskan, tugas guru bukan sekadar mencicipi makanan untuk mendeteksi potensi bahaya. Sebaliknya, guru diharapkan ikut serta makan bersama siswa di kelas, sambil melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh terhadap makanan.
Pemeriksaan ini mencakup kondisi kemasan ompreng, keberadaan label informasi produk yang jelas, serta kejelasan batas waktu konsumsi atau tanggal kedaluwarsa. Langkah ini krusial untuk mencegah risiko keracunan makanan akibat penanganan yang kurang tepat.
BGN memberikan instruksi tegas kepada seluruh kepala sekolah untuk tidak ragu menolak pengiriman makanan apabila ditemukan ketidaksesuaian standar. Misalnya, ompreng tanpa label atau penulisan tanggal kedaluwarsa yang tidak spesifik. "Manakala makan itu diterima oleh sekolah tidak ada labelnya di setiap omprengnya, itu saya minta untuk tidak dibagikan. Ditolak," pungkas Sudaryono.
Sistem penilaian berbasis aplikasi ini ditargetkan dapat segera beroperasi dalam kurun waktu satu hingga tiga minggu ke depan. BGN berharap seluruh kepala sekolah dapat segera mengakses dan memanfaatkan fitur ini untuk memastikan setiap hidangan yang disajikan memenuhi standar gizi dan keamanan yang ditetapkan.


