faktual.news – Keindahan alam Likupang di Minahasa Utara Sulawesi Utara kini tak hanya memukau wisatawan, tetapi juga menarik perhatian Uni Eropa sebagai model percontohan ekonomi biru. Setelah enam tahun berupaya keras, delegasi Uni Eropa dan 12 negara anggotanya terkesima melihat langsung potensi surga tersembunyi ini, serta dampak positifnya bagi masyarakat pesisir. Kunjungan ini merupakan bagian dari inisiatif ‘Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle’ yang diinisiasi Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia bersama Kementerian Kehutanan RI, dengan dukungan finansial dari KfW Development Bank Indonesia.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, yang memimpin rombongan, menegaskan peran vital Indonesia sebagai rumah bagi ekosistem laut terkaya di dunia. Melalui strategi Global Gateway, Uni Eropa berkomitmen mendukung pemulihan terumbu karang, penguatan sektor perikanan, dan penciptaan peluang ekonomi berkelanjutan bagi warga pesisir, termasuk di Minahasa Utara. "Kolaborasi ini membuktikan bahwa menjaga kelestarian alam dapat berjalan seiring dengan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan," ujar Chaibi, yang mengaku sangat terkesan dengan keasrian Likupang.

Salah satu capaian paling mencolok dari program pendampingan ini adalah pergeseran pola pikir masyarakat pesisir. Mereka kini memahami bahwa keberlanjutan ekosistem laut adalah kunci peningkatan kesejahteraan. Burkhard Hinz, Country Director KfW Development Bank Indonesia, menceritakan kisah seorang nelayan yang penghasilannya melonjak dua kali lipat. Bukan karena modal baru, melainkan karena perubahan cara menangkap ikan yang lebih bijak.
Di Desa Gangga Dua, misalnya, kesepakatan penutupan musiman area penangkapan ikan berhasil mendongkrak pendapatan nelayan dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta per musim. "Pendapatan nelayan menjadi berlipat ganda hanya dengan mengubah pola penangkapan ikan dan menemukan pendekatan baru menghadapi tantangan alam," tegas Hinz. Perubahan ini mendorong nelayan untuk memperhatikan waktu-waktu tertentu dalam setahun untuk melaut, memastikan hasil tangkapan tetap lestari dan diwariskan ke generasi mendatang.
Jean-Marc Roda, Regional Director CIRAD untuk Asia Tenggara dan Pasifik, menambahkan bahwa komunitas nelayan di sekitar Likupang secara mandiri telah membangun kesepakatan untuk melindungi area perkembangbiakan ikan muda. Mereka kini memilih melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan pelagis bernilai jual tinggi, alih-alih menggunakan bahan peledak di dekat pantai. "Para nelayan kini melaut sedikit lebih jauh, mendapatkan ikan pelagis berkualitas, lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi kepada turis mancanegara yang datang ke resor-resor sekitar," jelas Roda, menciptakan simbiosis mutualisme antara nelayan dan sektor pariwisata.
Pendekatan ini juga telah mengukuhkan empat kawasan pengelolaan perikanan berbasis ekosistem, berhasil menjaga kesehatan stok 27 spesies ikan utama seperti kakap, kerapu, dan ikan pelagis kecil. Roda menyamakan potensi masyarakat pesisir Minahasa Utara dengan kesuksesan kopi Kintamani di Bali, yang menjadi produk indikasi geografis berkat pengelolaan berbasis komunitas.
Lebih lanjut, program ini telah mendukung pembentukan dan penguatan 21 kawasan konservasi perairan seluas 1.631.572 hektar di empat wilayah, mencakup 16.613 hektar terumbu karang, 14.318 hektar mangrove, dan 10.582 hektar padang lamun. Secara keseluruhan, inisiatif di Sulawesi Utara dan Maluku Utara ini telah memberikan manfaat langsung kepada 5.752 individu dan sekitar 24.542 penerima manfaat tidak langsung melalui peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, serta pengembangan mata pencarian berkelanjutan. Likupang kini menjadi bukti nyata bahwa konservasi dan kemakmuran dapat berjalan beriringan, menciptakan masa depan cerah bagi laut dan penghuninya.


