Faktual.news – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen benih terkemuka, PT Sang Hyang Seri (SHS), akhirnya berhasil mencatatkan prestasi membanggakan. Perusahaan ini sukses keluar dari jerat kerugian finansial dan berhasil membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) serta laba bersih yang positif pada tahun 2025. Pencapaian ini menjadi titik balik yang sangat krusial bagi perusahaan setelah sempat terpuruk dalam kondisi keuangan yang memprihatinkan pada tahun 2022.
Direktur Utama PT Sang Hyang Seri, Adhi Cahyono, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh performa bisnis benih yang sangat kuat. Ia menyebutkan bahwa kontribusi laba kotor dari lini bisnis benih melonjak drastis hingga lebih dari 300 persen pada tahun 2025 jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.

"Hingga Agustus 2026, kontribusi tersebut telah mencapai sekitar 80 persen dari total capaian setahun penuh 2025. Sementara itu, angka EBITDA dan laba bersih perusahaan tetap terjaga di wilayah positif," ujar Adhi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/10).
Perjalanan menuju kesuksesan ini tidaklah mudah. Jika menengok ke belakang, SHS sempat mengalami masa-masa sulit. Pada tahun 2022, pendapatan perusahaan sempat anjlok lebih dari 30 persen yang mengakibatkan kerugian bersih membengkak hingga 67 persen. Meskipun pada 2023 perusahaan berhasil menekan kerugian hingga menyusut 73 persen, tantangan kembali muncul pada tahun 2024 akibat kebijakan refocusing pada kegiatan non-inti serta keterbatasan modal kerja.
Namun, Adhi mengingatkan agar keberhasilan ini disikapi dengan penuh kehati-hatian. Ia menjelaskan bahwa laba bersih yang diraih saat ini tidak sepenuhnya berasal dari operasional rutin, melainkan juga didorong oleh hasil divestasi aset dan langkah restrukturisasi. Saat ini, arus kas operasional perusahaan masih berada dalam status negatif, yang menandakan bahwa SHS masih berada pada tahap awal pemulihan profitabilitas.
"Tugas kami selanjutnya adalah mengubah titik balik ini menjadi arus kas yang sehat, meningkatkan utilisasi aset, serta memastikan laba yang dihasilkan berasal dari bisnis inti yang berkelanjutan," tegas Adhi.
Untuk mempercepat proses penyehatan ini, manajemen SHS telah menjalankan strategi pembenahan pada lima fondasi utama perusahaan. Pertama, optimalisasi aset strategis melalui pemulihan pengelolaan 3.200 hektare lahan di Sukamandi yang difokuskan untuk produksi benih, riset, dan demonstrasi teknologi. Kedua, penguatan kemitraan dengan petani melalui program One Day Payment guna menjamin kepastian pembayaran kepada mitra.
Ketiga, perusahaan melakukan fokus ulang portofolio dengan meninggalkan kegiatan non-inti dan kembali fokus pada bisnis utama produksi benih. Keempat, melakukan digitalisasi dan penyederhanaan struktur organisasi yang terbukti mampu memangkas biaya pegawai hingga 40 persen. Terakhir, perusahaan melakukan restrukturisasi utang lama dan divestasi aset non-inti untuk memperkuat modal kerja operasional.


