Faktual.news – Kondisi ekonomi yang kian menghimpit mulai dirasakan secara nyata oleh para pelaku usaha mikro di sektor pangan. Fenomena kenaikan harga berbagai komoditas kebutuhan pokok yang terjadi belakangan ini telah memicu penurunan daya beli masyarakat secara signifikan. Dampaknya, para pedagang kecil kini harus menelan pil pahit berupa merosotnya pendapatan harian hingga mencapai angka 20 persen.
Situasi memprihatinkan ini terpantau langsung di kawasan Pasar Anyar, Kota Tangerang. Kholifah, salah seorang pedagang sayur di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, harga berbagai jenis cabai mengalami lonjakan yang sangat tajam. Ia menyebutkan bahwa harga cabai rawit merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram, kini telah melambung hingga menyentuh angka Rp90 ribu.

Tak hanya cabai merah, jenis cabai lainnya pun mengalami nasib serupa. Cabai rawit hijau melonjak dari Rp50 ribu menjadi Rp70 ribu, sementara cabai keriting naik drastis dari Rp40 ribu menjadi Rp75 ribu. Kenaikan ini tidak berhenti di situ; komoditas sayuran lain seperti tomat dan mentimun juga naik sebesar Rp5 ribu menjadi Rp18 ribu. Bahkan, bahan pelengkap seperti jeruk nipis dan lemon mengalami kenaikan harga sebesar Rp10 ribu, serta sayuran hijau seperti sawi dan kubis yang ikut merangkak naik.
Menurut Kholifah, lonjakan harga ini diduga kuat akibat dampak kemarau panjang yang menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen. Kondisi ini membuat pasokan barang ke pasar menipis sehingga harga melambung tinggi. Akibatnya, perilaku belanja konsumen pun berubah. "Biasanya pelanggan membeli sayuran sebanyak satu kilogram, sekarang mereka hanya sanggup membeli setengah kilogram saja," keluhnya. Hal inilah yang menjadi penyebab utama omzet dagangannya anjlok lebih dari 20 persen.
Keluhan serupa juga datang dari sektor usaha warung makan. Andini, seorang pemilik Warteg di kawasan Batuceper, mengaku sangat kesulitan menghadapi kenaikan harga bahan baku. Ia menyoroti kenaikan harga beras yang cukup mencolok, dari Rp600 ribu menjadi Rp750 ribu per karung 50 kg, serta harga minyak goreng yang merangkak dari Rp14 ribu menjadi Rp19 ribu. Belum lagi harga bumbu dapur seperti bawang putih, kemiri, dan serai yang semuanya ikut naik.
Andini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, ia tidak sanggup menaikkan harga jual makanannya karena takut kehilangan pelanggan. Di sisi lain, ia enggan mengurangi kualitas rasa atau takaran bumbu demi menekan biaya produksi. Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada mengejar keuntungan besar.
"Daripada mengurangi kualitas rasa yang bisa membuat pelanggan kecewa, saya lebih memilih untuk mengurangi margin keuntungan saya sendiri. Jika biasanya saya bisa mengantongi Rp300 ribu per hari, sekarang hanya tersisa sekitar Rp200 ribu," ujar Andini dengan nada lesu.
Menghadapi situasi yang kian mencekam ini, para pedagang kecil berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata dan intervensi pasar untuk menstabilkan harga pangan. Mereka berharap kebijakan yang diambil dapat melindungi masyarakat kecil agar tidak terus menjadi korban dari pelemahan daya beli akibat ketidakstabilan harga kebutuhan pokok.


