faktual.news – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memberikan sinyal kuat potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak nonsubsidi seperti Pertamax. Menurut Bahlil gejolak harga minyak mentah Indonesia atau ICP yang dipicu dinamika pasar global menjadi pemicu utama. Jika harga minyak dunia melambung dan mendorong ICP merangkak naik maka harga BBM nonsubsidi otomatis akan ikut terkerek.
Bahlil menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi sepenuhnya berpatokan pada mekanisme pasar. Sebaliknya apabila harga minyak mentah global menurun dan ICP ikut terkoreksi maka harga BBM nonsubsidi juga akan menyesuaikan dengan penurunan. Di tengah ketidakpastian ini pemerintah memastikan ketersediaan cadangan BBM nasional tetap pada batas aman yakni untuk kebutuhan 18 hingga 21 hari.

Kabar baik datang untuk pengguna BBM subsidi. Bahlil menegaskan harga Pertalite tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Kepastian ini bahkan datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Namun Bahlil juga menyuarakan imbauan keras kepada masyarakat berpenghasilan tinggi dan kelompok ekonomi menengah ke atas agar tidak memanfaatkan BBM bersubsidi.
Ia menyoroti kasus di Makassar di mana sebuah mobil Pajero kedapatan mengisi Pertalite dalam jumlah besar setelah tangkinya dimodifikasi hingga mampu menampung sekitar 700 liter. Bahlil menduga Pertalite dalam jumlah fantastis itu akan dijual kembali. Ia mengaku sangat menyayangkan praktik curang tersebut dan berulang kali meminta masyarakat mampu untuk berempati.
"Cobalah kita pakai perasaan. Saya berkali-kali terus ini, ngomong ini. Jangan. Kasihan saudara-saudara kita yang berhak menerimanya," ujar Bahlil. Ia menambahkan bahwa kelompok mampu seharusnya tidak merampas jatah mereka yang benar-benar membutuhkan subsidi BBM. "Masa sih kita enggak malu sama saudara-saudara kita yang harus mendapatkan subsidi BBM, tapi jatahnya diambil oleh orang yang mampu. Tidak hanya sampai ke sana. Diambil, dijual lagi. Wah itu sudah saya enggak tahu lagi ya pikiran udah gimana lah," tambahnya.
Di pasar global harga minyak dunia sempat menembus 100 dolar AS per barel di tengah spekulasi pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Sidang Umum PBB New York. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 0,22 persen menjadi 100,57 dolar AS per barel. Sementara kontrak WTI untuk pengiriman Oktober juga naik tipis 0,02 persen menjadi 95,8 dolar AS per barel.
PT Pertamina Patra Niaga melalui VP Communication Kitty Andhora menegaskan penetapan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex akan tetap mengacu pada formula yang ditentukan pemerintah. Meskipun harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berfluktuasi Pertamina Patra Niaga berkomitmen mengikuti kebijakan pemerintah. Untuk BBM subsidi sesuai arahan pemerintah tidak ada kenaikan harga hingga akhir 2026.
Sebelumnya Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto pernah memproyeksikan harga BBM nonsubsidi berpotensi mencapai kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter jika harga minyak dunia tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Hal ini mengindikasikan bahwa fluktuasi global memiliki dampak signifikan terhadap kantong konsumen di Indonesia.


