Faktual News – Awal perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, nilai tukar rupiah dibuka dengan tren pelemahan, menembus level Rp16.903 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menandai penurunan sebesar 0,05 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp16.894 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah ini tak lepas dari kembali menguatnya dolar AS. Menurut Lukman, penguatan mata uang Paman Sam tersebut didorong oleh serangkaian data ekonomi AS yang melampaui ekspektasi pasar. Tak hanya itu, pernyataan bernada hawkish dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) turut menjadi katalis yang memperkuat posisi dolar.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang melanjutkan penguatan oleh data-data ekonomi yang lebih kuat dan pejabat-pejabat The Fed yang kembali memberikan pernyataan hawkish," ujar Lukman, Jumat, 20 Februari 2026, seperti dikutip Faktual News .
Lebih lanjut, Lukman juga menyoroti dampak ketidakpastian geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran. Situasi ini, imbuhnya, secara inheren menekan mata uang berisiko seperti rupiah, yang cenderung sensitif terhadap gejolak global.
"Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah-Iran juga menekan mata uang berisiko seperti rupiah," tambahnya.
Untuk pergerakan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah akan berfluktuasi dalam rentang yang cukup lebar, yakni antara Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan volatilitas yang mungkin terjadi di tengah sentimen pasar yang masih berhati-hati.
