faktual.news – Pasar keuangan global dikejutkan oleh lonjakan drastis bunga obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), dengan tenor 30 tahun yang kini meroket hingga 5,48 persen. Angka ini bukan sekadar kenaikan biasa, melainkan rekor tertinggi yang belum pernah terlihat sejak tahun 2004, menandai puncak dalam 22 tahun terakhir. Fenomena ini memicu gelombang penjualan besar-besaran surat utang di seluruh dunia, dipicu oleh kekhawatiran mendalam akan inflasi yang terus membayangi akibat mahalnya energi, didukung oleh pertumbuhan ekonomi AS yang masih sangat tangguh, serta pembengkakan belanja pemerintah.
Data terbaru menunjukkan, pada Kamis (24/9), bunga obligasi Treasury AS tenor 30 tahun menembus angka 5,48 persen, sementara obligasi tenor 10 tahun juga mencapai 5,20 persen. Kenaikan yield ini secara langsung mengindikasikan anjloknya harga obligasi di pasar. Gejolak di pasar obligasi AS menjadi sorotan utama mengingat statusnya sebagai pasar surat utang pemerintah terbesar dan paling berpengaruh di kancah global. Para investor kini mulai mewaspadai ambang batas 6 persen untuk obligasi AS 10 tahun, yang diprediksi bisa menjadi pemicu tekanan baru bagi stabilitas pasar keuangan dan korporasi di Negeri Paman Sam. Angka 5 persen sendiri, yang baru tercapai bulan ini, sebelumnya hanya muncul sesaat dalam beberapa dekade terakhir.

Dampak dari lonjakan bunga obligasi ini tidak hanya terasa di kalangan investor institusional, tetapi juga mulai merambah ke beban pinjaman bagi masyarakat. Suku bunga hipotek AS untuk tenor 30 tahun kini melayang di sekitar 7 persen, naik sekitar satu poin persentase dibandingkan sebelum konflik Iran, dan merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Sejak pertemuan kebijakan Federal Reserve pada Juni lalu, bunga obligasi AS 10 tahun telah melonjak 0,70 poin persentase, dan bahkan meningkat 1,25 poin persentase sejak awal Maret.
Gennadiy Goldberg, Kepala Strategi Suku Bunga AS di TD Securities, menjelaskan dalam risetnya bahwa "lonjakan besar yield sejak Maret sebagian besar didorong oleh ekspektasi yang meningkat terhadap langkah The Fed, sementara sisanya dipicu oleh kombinasi ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak." Indikator ekonomi terkini yang menunjukkan aktivitas bisnis AS masih sangat kuat, ditambah dengan tekanan inflasi yang terus meningkat, semakin memperbesar kemungkinan The Fed untuk kembali mengerek suku bunga acuannya. Berbeda dengan obligasi tenor pendek yang lebih mencerminkan ekspektasi suku bunga, obligasi AS tenor 30 tahun justru merefleksikan minat investor dalam mendanai utang jangka panjang pemerintah. Zachary Griffiths, Kepala Strategi Investasi dan Makro di CreditSights, menambahkan, "Anda melihat penyesuaian harga atas beberapa hal – pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh, dan itu menjadi alasan yang lebih positif mengapa kita berada dalam lingkungan tingkat bebas risiko yang lebih tinggi."
Tekanan di pasar obligasi ini bukan hanya fenomena AS semata. Raksasa ekonomi global lainnya juga menghadapi lonjakan biaya pembayaran bunga di tengah kebutuhan belanja pemerintah yang terus membengkak. Badan Keuangan Jerman, misalnya, memproyeksikan pinjaman pemerintah federal akan mencapai rekor 525,5 miliar euro atau sekitar US$598 miliar pada tahun 2026, dengan perkiraan peningkatan lebih lanjut tahun depan. Bunga obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun sempat menyentuh 3,6 persen bulan ini, level tertinggi dalam 17 tahun. Di Jepang, bunga obligasi pemerintah untuk tenor 10 tahun juga mencapai puncaknya sejak tahun 1996.
Meskipun demikian, pertumbuhan nominal ekonomi AS yang berada di kisaran 8 persen pada kuartal II menunjukkan belum adanya perlambatan signifikan, membuat investor relatif tenang di tengah kenaikan yield yang terus berlanjut. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, telah berupaya meredam lonjakan beban utang dengan berbagai langkah, termasuk intervensi untuk membeli yen guna mencegah pejabat Jepang menjual Treasury AS, serta mempertimbangkan perluasan pembelian kembali surat utang pemerintah AS tenor 20 dan 30 tahun. Namun, upaya tersebut belum berhasil membendung laju kenaikan yield. AS kini tercatat memiliki salah satu tingkat bunga obligasi tertinggi di antara negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7). Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, bahkan menyatakan perekonomian AS menunjukkan "ketangguhan yang luar biasa." Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah, seberapa tinggi lagi yield ini bisa melonjak?


