IHSG Sentuh 9.000: Sektor Ini Pendorong Utama!
Faktual News – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa impresif pada perdagangan sesi I hari ini, Kamis (8/1). Pasar modal domestik berhasil ditutup menguat signifikan, bahkan sempat mencicipi level psikologis krusial 9.000 poin, menandakan optimisme investor di tengah dinamika pasar yang menantang.
Pada penutupan sesi pertama, IHSG bertengger di posisi 8.984,47, melonjak 0,44 persen dari penutupan sebelumnya di 8.944,81. Momen paling menarik adalah ketika indeks kebanggaan ini berhasil menembus angka 9.000, tepatnya menyentuh 9.002,92, sebelum sedikit terkoreksi menjelang jeda siang. Aktivitas perdagangan juga cukup ramai, dengan total 32,33 miliar saham berpindah tangan dalam 2,32 juta kali transaksi, menghasilkan nilai fantastis sebesar Rp15,43 triliun.
Data RTI Business mencatat, mayoritas saham menunjukkan tren positif. Sebanyak 362 saham berhasil menguat, sementara 311 saham terkoreksi, dan 137 saham lainnya tidak bergerak. Kenaikan IHSG ini ditopang oleh kinerja solid dari beberapa sektor yang menjadi penopang utama. Sektor non-siklikal memimpin dengan kenaikan 1,50 persen, diikuti sektor energi yang melesat 1,38 persen. Sektor properti juga tak ketinggalan, tumbuh 1,15 persen, disusul transportasi yang naik 0,66 persen. Kontribusi positif juga datang dari sektor kesehatan (+0,30%), teknologi (+0,09%), dan keuangan (+0,01%).
Namun, tidak semua sektor mampu mempertahankan momentum positif. Beberapa di antaranya harus rela ditutup di zona merah. Sektor bahan baku mengalami penurunan paling signifikan sebesar 0,93 persen. Sektor industrial juga merosot 0,36 persen, disusul infrastruktur yang melemah tipis 0,04 persen, dan sektor siklikal turun 0,02 persen.
Kinerja positif IHSG ini semakin menonjol mengingat tren pelemahan yang melanda bursa-bursa utama di Asia. Indeks Nikkei 225 Tokyo merosot 1,23 persen, Hang Seng Index Hong Kong anjlok 1,50 persen, dan Shanghai Composite Index Shanghai juga melemah 0,04 persen. Kondisi ini menunjukkan ketahanan pasar modal Indonesia di tengah sentimen regional yang kurang kondusif, memberikan sinyal positif bagi investor domestik.
