Faktual News – Jakarta. Menjelang berakhirnya masa jabatan Direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2022-2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyiapkan serangkaian pesan krusial bagi jajaran kepemimpinan baru untuk periode 2026-2030. Proses pencalonan dan pemilihan direksi ini disebut sebagai momentum strategis untuk mengakselerasi kualitas dan daya saing pasar modal Tanah Air.
Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada Jumat, 9 Januari 2026, menekankan pentingnya proses yang akuntabel. "Harapan kami proses tersebut dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, serta akuntabel," ujarnya. Lantas, apa saja tiga agenda utama yang menjadi fokus OJK bagi nahkoda BEI selanjutnya?

1. Perkuat Integritas Pasar dan Perlindungan Investor
Pertama, OJK secara tegas menggarisbawahi perlunya penguatan integritas pasar dan perlindungan investor. Inarno menegaskan, direksi BEI mendatang harus memprioritaskan pengawasan perdagangan yang lebih efektif. Langkah ini esensial untuk memitigasi praktik-praktik perdagangan yang tidak wajar, seperti manipulasi pasar atau insider trading, demi menjaga kepercayaan investor dan memastikan pasar tetap beroperasi secara adil dan transparan. Integritas adalah fondasi utama keberlanjutan pasar modal yang sehat dan menarik bagi investor.
2. Dorong Pendalaman Pasar Modal secara Komprehensif
Agenda kedua yang menjadi sorotan OJK adalah upaya pendalaman pasar modal. Inarno menjelaskan, ini akan dicapai melalui pengembangan komprehensif baik dari sisi penawaran (supply) maupun permintaan (demand). Inovasi produk menjadi kunci, termasuk mendorong "lighthouse IPO" atau penawaran umum perdana dari perusahaan-perusahaan besar dan terkemuka yang dapat menjadi magnet bagi investor. Selain itu, peningkatan likuiditas melalui kebijakan "free flow" saham dan penambahan jumlah investor, khususnya institusi domestik maupun global, menjadi target penting untuk memperkuat fondasi pasar dan menjadikannya lebih resilien.
3. Perkokoh Infrastruktur Teknologi Informasi dan Keamanan Siber
Terakhir, namun tak kalah vital, adalah penguatan ketahanan infrastruktur teknologi informasi (TI) dan keamanan siber. Di era digitalisasi transaksi pasar modal yang semakin masif, OJK memandang bahwa sistem TI yang kokoh dan perlindungan siber yang kuat adalah prasyarat mutlak. Ketahanan ini akan memastikan kelancaran operasional, melindungi data investor dari ancaman siber, dan mencegah potensi gangguan yang dapat mengganggu stabilitas pasar secara keseluruhan.
OJK berkomitmen penuh untuk terus berkolaborasi dengan BEI sebagai mitra strategis. Sinergi ini diharapkan mampu mewujudkan visi pasar modal Indonesia yang tidak hanya semakin dalam dan efisien, tetapi juga berintegritas tinggi dan tangguh menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Dengan kepemimpinan yang kuat dan agenda strategis yang terarah, pasar modal Indonesia diharapkan mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
