faktual.news – Kenaikan harga oli kini tak hanya membebani pemilik kendaraan, namun juga menjadi momok menakutkan bagi para pemilik bengkel kecil dan montir di berbagai daerah. Mereka dihadapkan pada dilema sulit: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pelanggan setia, atau menahan harga namun terancam gulung tikar. Situasi ini menciptakan tekanan ekonomi yang signifikan bagi usaha mikro di sektor otomotif.
Sinaga, seorang pemilik bengkel sekaligus montir di kawasan Depok, Jawa Barat, mengungkapkan keresahannya. Menurutnya, lonjakan harga oli terjadi secara bertahap. Setelah sempat naik Rp2.000 per botol menjelang bulan puasa, harga kembali meroket hingga Rp15.000 per botol pasca-lebaran. Informasi dari pemasoknya bahkan mengindikasikan bahwa kenaikan ini belum mencapai puncaknya, dengan potensi harga yang terus merangkak naik akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Kondisi serupa juga dialami oleh Ilyas, seorang montir di bengkel kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Ia menyoroti bahwa di antara semua komponen suku cadang, oli mengalami lonjakan harga paling signifikan. Perubahan harga ini memaksa para montir untuk menyesuaikan tarif layanan mereka, yang secara langsung berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan konsumen.
Ilyas menjelaskan, dulu biaya penggantian oli berikut jasanya hanya berkisar Rp60.000. Namun, kini nominal tersebut hanya cukup untuk membeli oli saja dari distributor. Akibatnya, ia terpaksa mematok harga Rp75.000 untuk setiap penggantian oli, demi menutupi biaya pembelian oli dan jasa pengerjaan. Ini menunjukkan betapa tipisnya margin keuntungan yang mereka miliki dan seberapa besar dampak kenaikan harga bahan baku terhadap operasional bengkel kecil.
Para pelaku usaha bengkel kecil ini berharap ada solusi atau stabilitas harga agar mereka bisa terus beroperasi tanpa harus mengorbankan pelanggan atau keuntungan. Kenaikan harga oli yang terus-menerus menjadi tantangan berat yang harus mereka hadapi di tengah persaingan pasar yang ketat.


