Faktual News – Pasar modal Indonesia mengakhiri tahun 2025 dengan catatan yang membanggakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan terakhir pada Selasa, 30 Desember 2025, dengan penguatan tipis ke level 8.646,93. Angka ini menunjukkan kenaikan marginal sebesar 0,03 persen dari posisi penutupan sebelumnya di 8.644,25, menandai penutup tahun yang positif di tengah dinamika pasar yang beragam.
Dinamika perdagangan pada hari itu, berdasarkan statistik dari RTI Business, menunjukkan variasi yang cukup menarik. Sebanyak 346 saham berhasil membukukan kenaikan, sementara 317 saham mengalami koreksi, dan 146 saham lainnya tetap stagnan. Total volume perdagangan mencapai 39,54 miliar saham, berpindah tangan dalam 2,60 juta kali frekuensi transaksi, dengan total nilai transaksi yang mencapai angka fantastis Rp20,61 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, dalam acara Penutupan Perdagangan BEI di Jakarta pada 30 Desember 2025, mengulas kinerja gemilang pasar modal sepanjang tahun. Inarno memaparkan bahwa hingga 29 Desember 2025, IHSG telah melonjak signifikan sebesar 22,10 persen secara year-to-date, bahkan beberapa kali menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high). Lebih lanjut, nilai kapitalisasi pasar juga berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam roadmap pasar modal. "Dengan menembus angka lebih dari Rp15.000 triliun, yakni mencapai Rp15.810 triliun, dan rasio market cap terhadap PDB sudah mencapai 71,41 persen," ungkap Inarno, menegaskan pertumbuhan substansial pasar modal Indonesia.
Namun, kontras dengan performa IHSG yang menguat, beberapa indeks domestik lainnya justru menunjukkan tren pelemahan. Indeks LQ45 tertekan 0,64 persen, mengakhiri perdagangan di level 846,57. Senada, Indeks Saham Syariah Indonesia (JII) merosot 0,64 persen menjadi 578,48. Indeks IDX30 juga melemah 0,49 persen ke 437,24, dan indeks Sri-Kehati turun tipis 0,14 persen, menutup di level 382,89.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berhasil mencatatkan penguatan yang signifikan, menjadi pendorong utama kinerja IHSG. Sektor siklikal memimpin dengan kenaikan impresif 3,03 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur yang menguat 2,04 persen. Sektor keuangan juga membukukan kenaikan 0,97 persen, sektor non-siklikal meningkat 0,51 persen, sektor properti menguat 0,36 persen, dan sektor industrial tumbuh 0,19 persen.
Di sisi lain, beberapa sektor harus menghadapi tekanan dan berakhir di zona merah. Sektor kesehatan menjadi yang paling terpuruk dengan penurunan 1,53 persen. Disusul oleh sektor bahan baku yang melemah 1,17 persen, sektor teknologi turun 0,98 persen, sektor energi terkoreksi 0,19 persen, dan sektor transportasi minus 0,11 persen.
Di antara saham-saham yang paling menarik perhatian, PT RMK Energy Tbk (RMKE), PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), dan PT MD Entertainment Tbk (FILM) tercatat sebagai top gainers pada penutupan perdagangan. Sementara itu, PT Ulima Nitra Tbk (UNIQ), PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI), dan PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) masuk dalam daftar top losers. Untuk saham-saham yang paling aktif diperdagangkan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Sentul City Tbk (BKSL) mendominasi volume transaksi.
Dengan berbagai dinamika yang terjadi, pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan gambaran yang kompleks namun secara keseluruhan positif, ditandai oleh pertumbuhan IHSG yang solid dan rekor kapitalisasi pasar yang melampaui ekspektasi, memberikan harapan cerah untuk tahun-tahun mendatang.
(*)
Editor: Galih Pratama

