<strong>Faktual.news – Langkah strategis pemerintah melalui kebijakan hilirisasi kini tengah menjadi sorotan utama dalam upaya memperkuat struktur ekonomi nasional. MIND ID, sebagai salah satu pemain utama dalam industri mineral di Indonesia, mengungkapkan bahwa transformasi nilai tambah melalui pengolahan sumber daya alam mentah menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi negara.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menjelaskan bahwa perbedaan nilai ekonomi antara bahan mentah dengan produk hasil olahan sangatlah mencolok. Sebagai contoh nyata, komoditas bauksit yang selama ini diekspor dalam bentuk mentah hanya memiliki nilai jual sekitar US$40 per ton. Namun, setelah melalui proses hilirisasi menjadi alumina, nilainya melonjak drastis menjadi sekitar US$350 per ton.

Tak berhenti di situ, lonjakan nilai tambah yang lebih fantastis terjadi ketika alumina diolah lebih lanjut menjadi aluminium. Dalam bentuk aluminium, nilai ekonomi komoditas tersebut bisa mencapai angka sekitar US$3.200 per ton. Angka ini menunjukkan betapa besarnya potensi keuntungan yang hilang jika Indonesia hanya mengandalkan ekspor bahan mentah tanpa melakukan pengolahan di dalam negeri.
Dany menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi ini bukan sekadar tren industri, melainkan langkah strategis untuk memperkuat fondasi industri nasional. Dengan melakukan pengolahan di dalam negeri, Indonesia tidak hanya mendapatkan keuntungan dari segi harga jual, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi di kancah global.
Transformasi serupa juga tengah digalakkan pada sektor nikel. Jika sebelumnya nikel seringkali hanya dipandang sebagai komoditas mentah, kini melalui kebijakan hilirisasi, nikel telah bertransformasi menjadi produk bernilai tinggi seperti feronikel hingga material komponen baterai kendaraan listrik. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok global industri energi terbarukan.
Lebih lanjut, Dany menekankan bahwa investasi di sektor mineral harus memiliki visi jangka panjang. Menurutnya, pembangunan fasilitas industri tidak boleh hanya sekadar membangun pabrik atau infrastruktur fisik baru. Inti dari investasi strategis ini adalah bagaimana setiap modal yang masuk mampu memperkuat kapasitas industri nasional dan memastikan nilai tambah tetap berputar di dalam negeri.
"Investasi strategis di sektor mineral bukan hanya tentang membangun fasilitas baru. Yang lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut memperkuat industri nasional, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri," ujar Dany dalam keterangannya.
Melalui langkah ini, diharapkan perekonomian Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada fluktuasi harga komoditas mentah di pasar dunia, melainkan mampu berdiri tegak melalui produk-produk olahan yang memiliki nilai jual tinggi, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.


