Faktual.news – Fenomena menarik sekaligus memprihatinkan tengah terjadi di meja makan masyarakat Indonesia. Jika biasanya Anda mendapatkan potongan tahu atau tempe dengan ukuran yang mantap, kini ukuran tersebut perlahan mulai menyusut. Fenomena "shrinkflation" atau pengurangan ukuran produk ini bukan tanpa alasan; para perajin tahu dan tempe sedang berada di titik nadir akibat himpitan biaya produksi yang kian mencekik leher.
Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Kusnoto, mengungkapkan bahwa para pelaku usaha kecil ini sedang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Strategi memperkecil ukuran produk menjadi satu-satunya jalan keluar agar harga jual di pasar tetap terjangkau oleh daya beli masyarakat yang sedang lesu.

"Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja yang bermasalah. Harga plastik naik, minyak goreng juga naik, ditambah lagi daya beli masyarakat yang sedang tidak menentu," ujar Kusnoto dalam keterangannya.
Tekanan ekonomi yang dialami para perajin ini bersifat sistemik karena melibatkan kenaikan berbagai komponen biaya secara serentak. Pemicu utamanya adalah lonjakan harga kedelai impor yang meroket tajam. Jika sebelumnya harga kedelai berada di kisaran Rp9.500 per kilogram, kini harganya telah melambung hingga menyentuh angka Rp11.600 sampai Rp12.000 per kilogram.
Tak hanya kedelai, beban operasional lainnya turut menambah berat langkah para produsen. Harga plastik kemasan yang merupakan kebutuhan pokok pengemasan melonjak drastis dari kisaran Rp20.000-Rp25.000 per kilogram menjadi Rp35.000-Rp45.000 per kilogram. Selain itu, fluktuasi kurs dolar AS yang melemah terhadap rupiah turut memperparah situasi, di mana harga dolar diprediksi akan terus menekan biaya impor bahan baku.
Kenaikan harga minyak goreng, termasuk produk Minyakita yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), serta membengkaknya biaya logistik akibat kenaikan harga BBM, membuat margin keuntungan perajin semakin menipis.
Untuk menyiasati hal ini, para perajin melakukan modifikasi pada hasil produksi mereka. Sebagai gambaran, jika sebelumnya satu batang tempe dipotong menjadi enam bagian, kini dengan harga jual yang sama, perajin terpaksa memotongnya menjadi tujuh bagian agar tetap bisa dijual dengan harga ekonomis. Langkah ini diambil demi menjaga loyalitas pelanggan agar tidak berpindah ke produk lain.
Namun, strategi ini memiliki batas. Gakoptindo mencatat bahwa banyak perajin yang mulai mengurangi skala produksi. Bahkan, tidak sedikit yang sudah terpaksa gulung tikar karena tidak sanggup lagi menanggung beban operasional yang terus membengkak.
Di sisi lain, bantuan pemerintah berupa program stabilisasi dan subsidi kedelai senilai Rp500 miliar dinilai belum memberikan dampak nyata di tingkat akar rumput. Kusnoto menyebutkan bahwa skema bantuan tersebut baru akan terasa manfaatnya jika harga kedelai sudah menembus angka Rp12.500 hingga Rp13.000 per kilogram. Artinya, saat ini para perajin masih harus berjuang sendirian menghadapi badai kenaikan harga komponen produksi lainnya.


