Faktual.news – Pasar energi global kembali menunjukkan volatilitas tinggi setelah harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Jumat (2/10). Setelah sempat tertahan di ambang level psikologis US$100 per barel, harga minyak kini mulai merangkak naik kembali seiring dengan ketidakpastian situasi geopolitik dan dinamika pasokan global yang saling bertolak belakang.
Berdasarkan data terbaru, harga minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan sebesar 29 sen atau sekitar 0,28 persen, sehingga menyentuh angka US$102,60 per barel. Senada dengan Brent, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat penguatan tipis sebesar 27 sen atau 0,29 persen menjadi US$93,14 per barel. Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari lonjakan signifikan yang terjadi pada perdagangan Kamis sebelumnya, di mana harga Brent sempat melonjak lebih dari US$4 per barel.

Sentimen utama yang mendorong kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Laporan dari Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) tengah merencanakan pengiriman tambahan pasukan militer serta kapal induk ke wilayah Timur Tengah. Langkah strategis ini diduga sebagai persiapan jika Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk melanjutkan aksi serangan terhadap Iran pasca pemilu sela di Amerika Serikat.
Namun, analis pasar menilai kondisi saat ini cukup kompleks karena pasar sedang mencerna berbagai sinyal yang saling berlawanan. Tim Waterer, Analis Utama di KCM Trade, menyatakan bahwa pasar sedang berada dalam fase mencerna serangkaian informasi yang sangat beragam pekan ini. Menurutnya, prospek ekspor dari Arab Saudi yang membaik menjadi faktor penyeimbang di tengah kekhawatiran pasar akibat peningkatan militer AS di Teluk serta kebijakan pembatasan ekspor bahan bakar oleh China.
Di sisi lain, China juga menjadi faktor krusial yang memengaruhi harga. Beijing dilaporkan kembali memperketat aturan ekspor bahan bakar, termasuk diesel, bensin, dan bahan bakar pesawat secara bulanan. Saat ini, izin ekspor untuk kilang-kilang besar di luar wilayah Hongkong dan Makau dilaporkan belum diberikan selama masa libur pekan ini. Belum ada kepastian apakah izin ekspor tersebut akan dilonggarkan kembali setelah masa libur berakhir pada Rabu (7/10) mendatang.
Menariknya, di tengah ketegangan tersebut, pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah berupaya menekan kenaikan harga bahan bakar global dengan meminta negara-negara Uni Eropa (UE) untuk mengurangi cadangan diesel darurat mereka. AS meminta Uni Eropa melepaskan sekitar 120 juta barel diesel dalam enam bulan ke depan. Langkah ini, menurut analis utama XAnalysts Mukesh Sahdev, menjadi salah satu faktor yang mampu menahan laju kenaikan harga minyak agar tidak melonjak terlalu liar.
Secara keseluruhan, meskipun harga mengalami fluktuasi harian, tren bulanan menunjukkan dinamika yang kuat. Minyak Brent mencatat kenaikan signifikan sekitar 14 persen sepanjang bulan September, sementara WTI mencatat kenaikan sekitar 4 persen pada periode yang sama. Kini, seluruh mata dunia tertuju pada bagaimana keputusan politik di AS dan kebijakan energi China akan menentukan arah harga minyak di masa mendatang.


