Faktual.news – Sejarah ekonomi Indonesia pernah melewati masa yang sangat kelam dan mencekam. Salah satu catatan paling ekstrem adalah ketika tingkat inflasi nasional melonjak hingga angka fantastis, yakni 650 persen. Kondisi hiperinflasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah krisis nyata yang membuat harga barang meroket tak terkendali dan masyarakat harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan kebutuhan pokok.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara kembali membawa ingatan publik pada periode sulit tersebut. Dalam sebuah acara peringatan di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Suahasil mengenang kepemimpinan sosok legendaris, Franciscus Xaverius Seda atau yang akrab disapa Frans Seda. Beliau adalah Menteri Keuangan yang bertugas pada periode 1966-1968, sebuah masa di mana Indonesia berada di titik nadir ekonomi.

Menurut Suahasil, saat itu Indonesia menghadapi badai ekonomi yang sangat kompleks. Cadangan devisa negara terkuras habis, aktivitas ekspor mengalami hambatan besar, dan beban utang luar negeri menumpuk secara masif. Kondisi fiskal saat itu sangat tidak sehat karena pengeluaran negara melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan pendapatan yang diterima. Defisit yang sangat lebar ini kemudian ditutupi melalui ekspansi moneter, yang sayangnya justru menjadi bensin bagi api inflasi yang semakin berkobar.
"Jika inflasi mencapai 650 persen, itu artinya bukan hanya harga-harga yang melambung tinggi, tetapi juga terjadi fenomena di mana masyarakat harus mengantre panjang demi mendapatkan barang kebutuhan," ujar Suahasil saat memberikan sambutan dalam acara Memorial Lecture 100 Tahun Frans Seda.
Namun, di tengah kegelapan ekonomi tersebut, Frans Seda muncul sebagai penyelamat. Melalui kebijakan yang disiplin dan berani, beliau berhasil menekan laju inflasi secara drastis. Dari angka 650 persen pada tahun 1966, inflasi turun menjadi 110 persen pada 1967, dan terus menyusut hingga mencapai 85 persen pada tahun 1968.
Suahasil menekankan bahwa keberhasilan Frans Seda dalam meredam hiperinflasi adalah hasil dari asesmen yang sangat cermat. Beliau harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan untuk menumbuhkan ekonomi dengan kewajiban negara untuk melindungi rakyat kecil. Strategi yang diterapkan Frans Seda adalah menerapkan kebijakan anggaran berimbang, di mana belanja negara harus disesuaikan dengan kemampuan penerimaan yang ada.
Dalam menyusun APBN tahun 1967, Frans Seda mengambil langkah tegas dengan memangkas pengeluaran non-prioritas dan menghentikan proyek-proyek mercusuar yang tidak mendesak. Beliau juga berani mengambil keputusan pahit, seperti penyesuaian harga BBM, demi menertibkan postur anggaran negara.
Pelajaran berharga dari era Frans Seda adalah pentingnya menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Suahasil menegaskan bahwa hingga saat ini, pemerintah berkomitmen untuk menjadikan APBN sebagai alat pertumbuhan ekonomi sekaligus tameng pelindung bagi masyarakat. Dengan menjaga disiplin fiskal, fondasi pembangunan nasional dapat terus terjaga sebagaimana yang telah diletakkan oleh Frans Seda di masa lalu.


