Faktual.news – Warga di wilayah Kabupaten Tangerang kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan dapur. Fenomena kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah pemasok telah memicu lonjakan harga komoditas cabai yang cukup signifikan di pasar tradisional. Salah satunya terjadi di Pasar Gudang Tigaraksa, Banten, di mana harga cabai mengalami kenaikan drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga ini paling terasa pada komoditas cabai rawit merah. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp60.000 per kilogram, kini telah melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp85.000 per kilogram. Tak hanya cabai rawit, cabai merah keriting pun tak luput dari kenaikan harga. Komoditas yang biasanya dibanderol Rp40.000 per kilogram tersebut kini harus dibayar sebesar Rp60.000 per kilogram oleh konsumen.

Salah seorang pedagang cabai di Pasar Gudang Tigaraksa, Soleh (46), mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini sudah mulai terasa sejak beberapa minggu yang lalu. Menurutnya, lonjakan harga ini terjadi secara mendadak dan sangat terasa dampaknya karena mengikuti harga dari pasar induk.
"Kenaikannya sudah terjadi beberapa minggu lalu, dan kenaikannya sangat drastis dari pasar induknya," ungkap Soleh saat ditemui pada Senin (28/9).
Ia menjelaskan bahwa faktor utama di balik anjloknya ketersediaan stok di pasar adalah kondisi cuaca yang tidak menentu. Musim kemarau yang berkepanjangan telah mengganggu proses budidaya cabai di berbagai daerah. Banyak petani di wilayah Jawa Barat, yang merupakan pemasok utama cabai ke wilayah Tangerang, melaporkan mengalami kegagalan panen akibat kekeringan.
"Karena sedang musim kemarau, masa tanam menjadi sangat sulit. Dampaknya, banyak tanaman cabai yang mati sebelum sempat dipanen," tambahnya.
Kondisi ini menciptakan efek domino yang merugikan dua pihak sekaligus: pedagang dan konsumen. Soleh mengakui bahwa omzet penjualannya mengalami penurunan sekitar 30 persen akibat lonjakan harga tersebut. Hal ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun drastis. Konsumen yang biasanya membeli dalam jumlah banyak, kini mulai membatasi pembelian mereka.
"Permintaan pasti turun kalau harga sedang mahal. Kalau biasanya orang belanja satu kilogram, sekarang paling kuat beli seperempat atau setengah kilogram saja. Mereka tidak sanggup lagi beli dalam jumlah banyak," jelasnya.
Keluhan senada disampaikan oleh Tanti (37), seorang konsumen setia di pasar tersebut. Ia merasa sangat terbebani dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama bumbu dapur seperti cabai. Tanti berharap ada intervensi dari pemerintah untuk menstabilkan harga agar tidak terus meroket.
"Kalau bisa harganya dikurangi lagi, karena kebutuhan lain juga banyak yang naik. Kita harus mengatur pengeluaran dengan sangat ketat sekarang," keluh Tanti.
Menghadapi situasi ini, para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata, baik melalui operasi pasar maupun pemantauan pasokan, guna menjaga stabilitas harga komoditas pangan selama musim kemarau ekstrem ini berlangsung.


