faktual.news – Sebuah insiden menarik perhatian publik dari lingkungan Badan Gizi Nasional BGN. Seorang aparatur BGN yang tertangkap basah sedang asyik menggunakan ponselnya saat rapat koordinasi daring, kini dipastikan tidak jadi dipindahkan ke Papua. Keputusan awal dari Kepala BGN Sudaryono untuk memutasi staf tersebut ke ujung timur Indonesia, kini telah direvisi dengan tujuan penempatan yang berbeda.
Momen menegangkan itu terekam jelas dalam sebuah video rapat yang viral di media sosial. Kala itu, Sudaryono tengah memberikan arahan penting melalui platform Zoom kepada jajaran BGN. Namun, perhatiannya tertuju pada salah satu peserta, Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, bernama Adi Afrianto, yang terlihat tidak fokus dan sibuk dengan gawainya. Tanpa ragu, Sudaryono langsung melayangkan teguran keras dan memerintahkan Kepala Biro SDM BGN untuk segera memproses pemindahan Adi Afrianto ke Bumi Cenderawasih.

"Saya kasih penjelasan, dia main handphone itu," ujar Sudaryono dalam rekaman rapat yang beredar. Ia bahkan secara spesifik meminta agar Adi Afrianto dicatat dan segera dimutasi ke Papua. Perintah ini sontak menjadi perbincangan hangat, memicu spekulasi mengenai nasib sang pegawai.
Namun, belakangan terungkap alasan di balik pembatalan penugasan ke Papua. Sudaryono menjelaskan bahwa setelah dilakukan pengecekan, wilayah Papua ternyata sudah mengalami kelebihan pasokan tenaga Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia SPPI. Selain itu, jumlah Dapur MBG di sana belum terlalu banyak, sehingga kebutuhan akan tenaga tambahan tidak mendesak.
"Tenaganya over supply, sehingga kami tidak pindah ke Papua," terang Sudaryono dalam konferensi persnya. Sebagai gantinya, Adi Afrianto akan dialihkan penugasannya ke wilayah lain yang memang membutuhkan. Kepala BGN memastikan bahwa staf tersebut akan ditugaskan ke Sulawesi Selatan, sebuah daerah yang saat ini memerlukan tambahan tenaga SPPI untuk mendukung program-program gizi nasional. Keputusan ini diharapkan dapat lebih efektif dalam pemerataan sumber daya manusia BGN.


