Faktual News Ancaman koreksi lanjutan membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG akan melanjutkan tren penurunannya, terutama jika berada di kisaran 7.400-7.470. Indikasi ini terlihat dari Stochastic RSI yang menunjukkan sinyal bearish reversal, dibarengi peningkatan volume penjualan. Penurunan IHSG kemarin (31/7), yang ditutup melemah 0,87% di angka 7.484,34, semakin memperkuat prediksi tersebut.
Faktor pemicu pelemahan IHSG cukup beragam. Profit taking oleh investor menjadi salah satu penyebab utama. Kinerja keuangan beberapa emiten yang kurang menggembirakan juga turut andil. Kondisi teknikal pasar pun dinilai turut menekan IHSG.

Sentimen domestik juga patut diperhatikan. Para pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Juli 2025. Konsensus memperkirakan inflasi tahunan (yoy) akan naik ke 2,24% dari 1,87% di bulan Juni. Inflasi bulanan (mom) juga diproyeksikan meningkat menjadi 0,21% dari 0,19%. Data neraca perdagangan Juni 2025, yang diperkirakan surplus USD3,55 miliar (berkurang dari USD4,3 miliar di Mei), juga akan menjadi sorotan.
Dari Amerika Serikat, investor akan mencermati data Nonfarm Payrolls Juli 2025. Penyerapan tenaga kerja diperkirakan turun menjadi 110 ribu, dibandingkan 147 ribu di bulan Juni. Tingkat pengangguran (Unemployment Rate) diprediksi naik menjadi 4,2% dari 4,1%. Indeks ISM Manufacturing PMI Juli juga akan dirilis, dengan proyeksi kenaikan tipis ke level 49,5 dari 49.
Di tengah ketidakpastian ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk dipertimbangkan, antara lain PANI (PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk), MAPI (PT Mitra Adiperkasa Tbk), MAPA (PT Map Aktif Adiperkasa Tbk), AMRT (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk), dan INTP (PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk). Namun, investor tetap perlu berhati-hati dan mempertimbangkan risiko sebelum melakukan investasi.
