Faktual News – Pembukaan perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung disambut dengan tekanan jual yang signifikan. Pada pukul 09.00 WIB (13/4), indeks kebanggaan bursa Tanah Air ini merosot tajam 1,23 persen, membuka sesi di level 7.366,55, jauh di bawah penutupan sebelumnya di 7.458,49. Penurunan ini mengejutkan banyak pihak setelah performa positif di sesi sebelumnya.
Data dari RTI Business menunjukkan aktivitas pasar yang cukup dinamis meskipun dalam tren negatif. Sebanyak 817,91 juta saham berpindah tangan dalam 100 ribu kali transaksi, mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp486,27 miliar. Kondisi ini mencerminkan dominasi sentimen negatif, di mana 338 saham mengalami koreksi, berbanding terbalik dengan 144 saham yang menguat, sementara 199 saham lainnya stagnan tanpa perubahan berarti.
Sebelumnya, Ratih Mustikoningsih, Financial Expert dari Ajaib Sekuritas, sempat memproyeksikan pergerakan IHSG yang berpotensi positif di rentang 7.000-7.150. Namun, realitas pasar pagi ini sedikit berbeda, dengan Ratih juga memperkirakan pelemahan di kisaran 7.350-7.400 untuk hari ini. Prediksi ini muncul setelah IHSG pada perdagangan sebelumnya (10/4) justru ditutup menguat impresif 2,07 persen atau naik 150 poin ke 7.458, memberikan harapan akan tren positif yang berkelanjutan.
Pergerakan IHSG hari ini tak lepas dari berbagai sentimen, baik domestik maupun global. Dari dalam negeri, pasar sempat diwarnai optimisme dengan rebound IHSG sebesar 6,14 persen dalam sepekan terakhir, didorong oleh saham-saham unggulan (Blue Chip) dan konglomerasi. Meredanya konflik di Timur Tengah dan berbagai aksi korporasi emiten, seperti stock split dan pembagian dividen, turut menjadi katalis positif yang direspons pasar pekan lalu.
Kendati demikian, apresiasi IHSG dalam beberapa waktu terakhir tidak serta merta menahan arus keluar modal asing. Tercatat, investor asing masih membukukan outflow sebesar Rp3,3 triliun di seluruh pasar ekuitas dalam sepekan hingga 10 April, dengan sektor perbankan berkapitalisasi besar menjadi target utama penjualan. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada sentimen positif, kepercayaan investor asing masih rapuh.
Di kancah global, sentimen negatif datang dari Amerika Serikat. Indeks saham berjangka AS terkoreksi pada 13 April menyusul kegagalan perundingan antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan. Diskusi maraton selama 21 jam yang dihadiri Wakil Presiden JD Vance dari pihak AS tidak membuahkan kesepakatan terkait program nuklir Iran, pengelolaan Selat Hormuz, dan tuntutan Iran atas aset yang dibekukan. Kegagalan diplomatik ini memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Kegagalan perundingan ini segera direspons pasar komoditas, dengan harga minyak mentah Brent melonjak 7,94 persen menjadi USD102,76 per barel pada 13 April, mencerminkan kekhawatiran akan pasokan. Sementara itu, bursa saham Asia Pasifik juga menunjukkan pelemahan terbatas, di mana indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,65 persen dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,84 persen secara intraday pada tanggal yang sama. Kombinasi sentimen domestik yang beragam dan tekanan global yang meningkat tampaknya menjadi faktor utama di balik pembukaan merah IHSG hari ini. Investor kini memantau perkembangan lebih lanjut, terutama dari arena geopolitik dan data ekonomi makro yang akan dirilis.

