Faktual News – Jakarta. Sentimen negatif dari kebijakan perdagangan internasional kembali mengguncang pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Kamis (26/02/2026) harus kembali menelan pil pahit, merosot tajam 1,04 persen. Angka tersebut membawa IHSG parkir di level 8.235,26, jauh di bawah penutupan sebelumnya di 8.322,22. Pelemahan signifikan ini, menurut analisis pasar, utamanya dipicu oleh keputusan Amerika Serikat (AS) yang memberlakukan tarif impor tinggi pada produk panel surya, sebuah kebijakan yang secara langsung menghantam Indonesia.
Phintraco Sekuritas Indonesia, dalam laporan terbarunya, mengidentifikasi rencana Departemen Perdagangan AS sebagai biang keladi utama di balik tekanan pasar. Washington berencana mengenakan bea masuk substansial pada produk sel dan panel surya yang berasal dari India, Indonesia, dan Laos. Secara spesifik, tarif yang ditetapkan AS mencapai 125,87 persen untuk produk dari India, 104,38 persen untuk impor dari Indonesia, dan 80,67 persen untuk Laos. Tak hanya itu, beberapa entitas bisnis Indonesia juga menghadapi tarif khusus yang lebih tinggi; PT Blue Sky Solar misalnya, harus menanggung bea masuk sebesar 143,3 persen, sementara PT REC Solar Energy dikenakan tarif 85,99 persen.

Gambaran suram pasar tercermin dari data RTI Business, yang menunjukkan dominasi saham-saham yang tertekan. Sebanyak 568 saham harus terkoreksi, berbanding jauh dengan hanya 146 saham yang berhasil menguat, dan 105 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan juga cukup tinggi, dengan 56,52 miliar saham berpindah tangan dalam 3,14 juta kali frekuensi transaksi, menghasilkan total nilai transaksi yang mencapai Rp28,14 triliun.
Dampak pelemahan ini tidak hanya terasa pada IHSG, melainkan juga menyeret seluruh indeks sektoral dan utama lainnya ke zona merah. Indeks-indeks penting seperti IDX30 anjlok 0,60 persen ke 443,43, LQ45 merosot 0,61 persen ke 837,89, Sri-Kehati melemah 0,48 persen menjadi 388,14, dan JII terpangkas 1,11 persen ke 560,71. Lebih lanjut, tidak ada satu pun sektor yang mampu bertahan dari tekanan jual. Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul, ambles 4,54 persen. Disusul oleh sektor siklikal yang melemah 2,59 persen, infrastruktur turun 2,41 persen, energi merosot 2,13 persen, properti melemah 2,10 persen, dan kesehatan anjlok 2,06 persen. Sektor-sektor lain seperti bahan baku (merosot 1,73 persen), teknologi (melemah 1,46 persen), non-siklikal (turun 1,33 persen), industrial (merosot 1,26 persen), dan keuangan (melemah 0,52 persen) juga tak luput dari koreksi.
Di tengah gejolak pasar, beberapa saham masih mampu mencatatkan kenaikan. Saham-saham top gainers hari itu antara lain PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO). Sebaliknya, daftar saham top losers didominasi oleh PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), dan PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS). Sementara itu, saham-saham yang paling aktif diperdagangkan dan menarik perhatian investor adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

