faktual.news – Kursi Menteri Keuangan Republik Indonesia kini resmi diduduki oleh Suahasil Nazara. Pelantikannya oleh Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menandai babak baru dalam pengelolaan fiskal negara, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Penunjukan ini tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 97p Tahun 2026, yang menetapkan Suahasil sebagai nakhoda keuangan Kabinet Merah Putih hingga akhir masa jabatan 2029.
Usai upacara pelantikan yang berlangsung di Istana Merdeka, Suahasil Nazara mengungkapkan arahan langsung dari Presiden Prabowo. Fokus utama adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Ia menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus tetap kokoh dan dapat dipercaya, sekaligus menjadi instrumen vital dalam menjalankan berbagai program prioritas pemerintah. "APBN harus mampu menjadi penopang pertumbuhan dan stabilisator ekonomi Indonesia," ujarnya, menekankan komitmen Kemenkeu untuk bekerja keras mewujudkan visi tersebut. Tak hanya itu, Suahasil juga memastikan bahwa defisit APBN akan senantiasa dijaga di bawah ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai amanat Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Namun, di balik optimisme tersebut, sederet tantangan besar telah menanti Suahasil Nazara. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, mengidentifikasi empat pekerjaan rumah (PR) krusial yang harus segera diatasi. Pertama, menjaga integritas dan stabilitas APBN, terutama terkait defisit, tingkat utang, dan efisiensi belanja. Kedua, menemukan cara inovatif untuk meningkatkan pendapatan negara tanpa memberatkan pelaku usaha. Ketiga, memastikan program-program unggulan pemerintah berjalan lancar tanpa mengorbankan fleksibilitas fiskal. Dan yang terakhir, mengembalikan kepastian kebijakan fiskal agar pasar dan investor kembali memperoleh keyakinan. "Ini bukan sekadar mencari lebih banyak uang, melainkan bagaimana setiap rupiah APBN dapat menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar," terang Ronny.
Ronny menilai, secara kapabilitas teknis, Suahasil memiliki bekal yang mumpuni. Pengalamannya sebagai Wakil Menteri Keuangan menjadikannya sosok yang sangat memahami seluk-beluk mesin fiskal dari dalam. Oleh karena itu, tantangan terbesarnya bukan pada pemahaman APBN, melainkan pada keberanian mengambil keputusan strategis dan memastikan disiplin fiskal dijalankan tanpa kompromi. Kemampuan Suahasil akan benar-benar teruji oleh seberapa kuat mandat politik yang diberikan kepadanya. "Seorang Menteri Keuangan yang handal tidak cukup hanya cerdas secara teknokratis, tetapi juga harus memiliki otoritas untuk menolak usulan belanja atau kebijakan yang berpotensi membahayakan kesehatan APBN," tegasnya.
Mengenai target defisit APBN di bawah 3 persen, Ronny mengakui bahwa hal itu bukan mustahil, namun ruang geraknya sangat terbatas. Tantangan sesungguhnya muncul ketika belanja pemerintah melonjak dan kebutuhan program prioritas meningkat, sementara penerimaan negara belum tentu tumbuh pada laju yang sama. Oleh karena itu, pengelolaan utang tidak bisa hanya sebatas membatasi utang baru. "Yang lebih esensial adalah menjaga keberlanjutan utang, di mana pertumbuhan ekonomi harus melampaui pertumbuhan beban utang, biaya bunga tetap terkendali, dan utang digunakan untuk membiayai aktivitas yang menghasilkan produktivitas, bukan sekadar menutupi belanja rutin," pungkas Ronny, menyoroti kompleksitas tugas yang kini diemban Suahasil Nazara.


