faktual.news – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto melontarkan kritik tajam terhadap para kepala daerah yang dinilai masih minim kepekaan terhadap realita kehidupan masyarakat. Sorotan utama tertuju pada absennya pengalaman mereka dalam menggunakan transportasi umum, sebuah kondisi yang menurut Bima, menjauhkan pemimpin dari denyut nadi warganya.
Dalam forum Urban Climate 2026 di Jakarta, Bima Arya secara terang-terangan mengungkapkan keraguannya, "Sangat banyak kepala daerah yang saya tidak yakin pernah merasakan naik angkot, bus, atau kereta api." Ketiadaan pengalaman ini, lanjutnya, menyebabkan para pemimpin kehilangan sensitivitas terhadap permasalahan krusial yang dihadapi penduduk, terutama terkait kebutuhan akan perbaikan sistem mobilitas perkotaan.

Bima menggambarkan betapa mendesaknya kebutuhan tersebut dengan analogi yang menusuk. Ia menyinggung pengalaman berdesakan di gerbong KRL yang padat, "Pernahkah merasakan seperti digencet di kaleng sarden, ya, seperti cendol gitu, di KRL?" Pengalaman pahit ini, menurutnya, akan membuka mata para pemimpin akan dahaga warga terhadap sistem transportasi publik yang manusiawi dan efisien.
Lebih lanjut, Bima Arya mendesak para kepala daerah untuk meninggalkan pendekatan sektoral yang kaku dalam menghadapi isu perubahan iklim dan mobilitas perkotaan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah serta perencanaan tata ruang yang matang. Hal ini krusial agar target pertumbuhan ekonomi dapat berjalan selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan upaya penurunan emisi gas rumah kaca.
"Perubahan iklim ini sangat penting untuk didekati dengan tiga perubahan tata kelola," tegas Bima. Ia mendorong transisi dari pendekatan sektoral menuju integrasi, melampaui batas administrasi menuju orientasi kawasan, serta beralih dari reaktif menjadi antisipatif, dimulai dari tahap perencanaan. Sebuah perubahan paradigma yang diharapkan mampu menciptakan kota-kota yang lebih layak huni dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.


