faktual.news – Efisiensi pelabuhan peti kemas yang terus meningkat ternyata menyimpan tantangan besar di sisi darat. Para ahli memperingatkan, jika tidak segera dibenahi, percepatan bongkar muat di dermaga hanya akan memindahkan kemacetan ke jalur distribusi selanjutnya. Ini bukan sekadar masalah infrastruktur fisik, melainkan sebuah ekosistem kompleks yang membutuhkan perhatian menyeluruh.
Kuncoro Harto Widodo, seorang peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, menegaskan bahwa pertumbuhan arus peti kemas harus dibarengi dengan penguatan setiap simpul dalam rantai pasok. Menurutnya, perbaikan layanan logistik tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas fisik semata. Integrasi data, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan regulasi yang kuat menjadi pilar utama untuk memastikan pergerakan barang tetap lancar tanpa hambatan.

"Satu saja simpul bermasalah, dampaknya akan terasa di seluruh jaringan," ujar Kuncoro. Oleh karena itu, ia mendorong agar integrasi data antara terminal, perusahaan pelayaran, depo, perusahaan truk, kawasan industri, hingga pemerintah dapat terwujud. Optimalisasi National Logistics Ecosystem (NLE) juga krusial agar aliran informasi dapat bergerak lebih cepat, bahkan idealnya mendahului pergerakan fisik barang.
Selain sistem informasi terpadu, Kuncoro juga menyoroti pentingnya pengembangan angkutan barang berbasis kereta api. Moda transportasi ini tidak hanya menawarkan alternatif distribusi menuju pelabuhan, tetapi juga dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi masalah kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL) di jalan raya.
Dari sudut pandang pelayaran, Ketua DPC INSA Semarang, Hari Ratmoko, mengakui bahwa produktivitas terminal peti kemas saat ini sudah cukup baik. Namun, peningkatan kapasitas dermaga dan kedalaman alur tetap vital untuk mengakomodasi lonjakan lalu lintas kapal. "Semakin cepat bongkar muat, semakin efisien waktu, dan perusahaan pelayaran pasti senang," jelasnya. Ia menambahkan, peningkatan kinerja terminal harus selaras dengan kesiapan fasilitas penunjang di luar area pelabuhan, di mana depo kontainer memegang peranan krusial dalam menjaga kelancaran rantai pasok. Depo bukan hanya tempat penyimpanan, melainkan juga penyangga saat lapangan penumpukan di pelabuhan penuh.
Sementara itu, Ketua DPC Aptrindo Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Supriyono, melaporkan bahwa kondisi di sisi darat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang relatif lancar pada awal semester II 2026. Perputaran truk tidak lagi menghadapi kepadatan seperti awal tahun. Meski demikian, Supriyono menyebut beberapa isu yang masih perlu dibenahi, seperti perubahan jadwal kapal yang kerap membuat truk harus menunggu lama. Optimalisasi Terminal Booking System (TBS) terkait ketersediaan slot kendaraan juga menjadi fokus. Aptrindo berharap depo kontainer di Semarang dapat beroperasi 24 jam untuk fleksibilitas pergerakan dan mengurangi antrean.
Tantangan serius justru muncul di kawasan timur Indonesia. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, Puji Hermoko, mengungkapkan kebutuhan mendesak akan depo kontainer di luar area pelabuhan. "Di Merauke, 100% depo ada di dalam pelabuhan," keluhnya. Keterbatasan ruang penumpukan ini berujung pada peningkatan biaya logistik. SPIL bahkan terpaksa menurunkan muatan di Timika sebelum melanjutkan ke Merauke, menambah biaya dan risiko, terutama untuk komoditas pangan. "Kami sangat berharap ada kebijakan dari Pemda maupun Pemprov agar kami bisa membangun depo di luar," harap Puji.
Pengelola TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, menyadari kebutuhan ini. Pihaknya sedang menyiapkan revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare untuk meningkatkan kapasitas, termasuk perbaikan infrastruktur, akses, dan penambahan alat bongkar muat rubber tyred gantry crane (RTG). Namun, pengembangan depo eksternal masih terbentur masalah investasi dan daya dukung jalan. Rasul berharap dukungan pemerintah daerah dapat mempercepat penyediaan depo ini sekaligus pengembangan kawasan pelabuhan.
Gambaran serupa tentang pentingnya kesinambungan arus peti kemas juga terlihat di TPK New Makassar. Terminal Head TPK New Makassar, Teguh Firdaus, menyatakan operasional terminal berjalan baik dan Makassar berperan sebagai hub utama distribusi untuk Indonesia Timur. Pelindo fokus menjaga kesiapan infrastruktur dan peralatan bongkar muat. Namun, Teguh menegaskan, kelancaran distribusi tidak hanya bergantung pada kecepatan bongkar muat di dermaga, tetapi juga kesinambungan pergerakan kontainer setelah keluar dari terminal menuju sisi darat. Koordinasi erat antara operator terminal, perusahaan pelayaran, perusahaan truk, pengelola depo, hingga pemilik barang menjadi kunci vital.
Di TPK Ambon, Pelindo proaktif mengantisipasi potensi kemacetan di sisi darat melalui koordinasi intensif dengan para pemangku kepentingan. Evaluasi rutin dilakukan untuk memastikan kelancaran arus barang. Terminal Head TPK Ambon, Yandi Sofyan Hadi, menyebut peremajaan peralatan sebagai kebutuhan mendesak untuk mengimbangi pertumbuhan arus peti kemas. Pelindo juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon untuk mendukung penambahan kapasitas lapangan penumpukan. Ini membuktikan bahwa sinergi semua pihak adalah kunci utama mewujudkan logistik Indonesia yang benar-benar efisien.


