faktual.news – Menteri Perdagangan Budi Santoso akhirnya membeberkan alasan mendalam di balik tekad kuat Indonesia untuk menjalin perjanjian dagang dengan Amerika Serikat. Penjelasan ini sekaligus menanggapi berbagai pertanyaan skeptis yang kerap muncul di media sosial mengenai urgensi kesepakatan tersebut.
Dalam sebuah acara pengembangan wirausaha muda di Universitas BINUS, Alam Sutera, Tangerang, Budi Santoso mengakui bahwa sentimen publik di jagat maya seringkali mempertanyakan langkah pemerintah ini. Namun, ia menegaskan bahwa ada pertimbangan strategis yang sangat krusial di baliknya.

Amerika Serikat, menurut Budi, merupakan mitra dagang yang sangat vital bagi Indonesia. Data menunjukkan, selama periode Januari hingga Desember 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan yang signifikan dengan Negeri Paman Sam, mencapai angka fantastis US$18,11 miliar. Rinciannya, ekspor Indonesia ke AS menembus US$30,96 miliar, sementara impor tercatat US$12,85 miliar, menjadikan total nilai perdagangan kedua negara mencapai US$43,80 miliar.
Lebih lanjut, Budi Santoso mengungkapkan bahwa pangsa ekspor Indonesia ke AS mencapai 11 persen dari total ekspor global. Angka ini menunjukkan betapa strategisnya pasar Amerika bagi produk-produk Indonesia, menjadikannya salah satu tujuan utama yang harus diamankan.
Perjalanan menuju perjanjian dagang ini bukanlah hal baru. Budi menceritakan bahwa Indonesia telah berupaya selama tiga dekade untuk mewujudkan kesepakatan perdagangan dengan AS. Pada Juli 1996, sempat terjalin Trade and Investment Framework Agreements (TIFA) yang diharapkan menjadi landasan. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal karena AS kala itu memandang dirinya hanya sebagai pasar semata bagi Indonesia.
Titik terang baru muncul di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Di era ini, akhirnya terwujudlah Agreement on Reciprocal Trade (ART), sebuah perjanjian dagang resiprokal yang menjadi terobosan fundamental. Budi Santoso menyebut penandatanganan ART sebagai salah satu pencapaian terbesar, krusial untuk mengamankan dan menjaga keberlangsungan ekspor Indonesia ke Amerika.
Mendag Budi juga berpesan kepada para mahasiswa untuk tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang beredar di media sosial. Di tengah derasnya arus informasi saat ini, ia menyoroti tantangan dalam memilah kebenaran. Berbeda dengan masa lalu yang sulit mencari berita, kini masyarakat dihadapkan pada kesulitan memilih berita yang benar di antara banyaknya kabar hoaks.
Budi menambahkan, fenomena "bad news is good news" sering terjadi, di mana informasi negatif atau tidak benar justru lebih menarik perhatian dan dibaca. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memiliki literasi yang mumpuni agar generasi muda mampu membedakan mana informasi yang valid dan mana yang sekadar kabar bohong.


