faktual.news – Presiden Prabowo Subianto secara mengejutkan menetapkan asumsi nilai tukar rupiah pada level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Pengumuman ini disampaikan Prabowo dalam forum Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta pada Jumat (14/8), menjadi sorotan utama dalam proyeksi ekonomi makro pemerintah ke depan.
Selain target rupiah yang ambisius, Prabowo juga memaparkan sejumlah indikator ekonomi makro lainnya. Inflasi diproyeksikan akan terkendali di angka 2,5 persen. Sementara itu, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun diperkirakan berada di kisaran 6,9 persen, melengkapi gambaran optimisme pemerintah terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Menanggapi proyeksi tersebut, kalangan analis pasar uang memberikan pandangan. Lukman Leong, seorang Analis Mata Uang dari DOO Financial Futures, menilai bahwa target rupiah Rp17.500 per dolar AS pada tahun 2027 sangat realistis untuk dicapai. Namun, ia menekankan pentingnya dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang kuat serta konsisten dari pemerintah.
Lukman Leong menambahkan, meredanya tekanan dari mata uang dolar Amerika Serikat diperkirakan akan terjadi pada tahun depan. Prediksi ini didasari asumsi tidak adanya eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas US$100 per barel. Faktor geopolitik dan harga komoditas global memang menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak stabil di rentang Rp17.300 hingga Rp17.700 per dolar AS pada 2027.
Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan Jumat (14/8) sore, nilai tukar rupiah tercatat menguat. Mata uang Garuda berada di posisi Rp17.827 per dolar AS, menunjukkan penguatan signifikan sebesar 50 poin atau 0,28 persen dibandingkan hari sebelumnya, memberikan sedikit gambaran positif di tengah proyeksi jangka panjang pemerintah.


