faktual.news – Presiden Prabowo Subianto baru saja mengukir sejarah baru bagi industri otomotif nasional. Bertempat di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8), Prabowo secara resmi menginisiasi Ekosistem Motor Listrik Nasional atau Molinas. Ini bukan sekadar peresmian produk, melainkan sebuah visi ambisius untuk membangun fondasi ekosistem terintegrasi yang kokoh di seluruh penjuru negeri.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, Molinas dirancang secara menyeluruh. Cakupannya meliputi pengembangan industri dan manufaktur lokal, produksi komponen vital serta baterai, pembangunan infrastruktur pengisian daya dan penukaran baterai yang merata, skema pembiayaan yang inovatif, jaringan distribusi yang luas, layanan purnajual yang prima, hingga strategi penguatan penyerapan pasar domestik. PT Len Industri dipercaya sebagai integrator utama, memimpin orkestrasi kolaborasi antar berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan ekosistem ini.

Dengan kapasitas produksi awal yang mencapai 100 ribu unit per tahun, Molinas menunjukkan keseriusan. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang saat ini berada di angka 40 persen ditargetkan akan meningkat signifikan hingga 60 persen, menandakan komitmen kuat terhadap kemandirian industri.
Pengamat otomotif terkemuka dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyoroti potensi luar biasa Molinas. Menurutnya, program ini bisa menjadi katalisator industrialisasi sejati, asalkan nilai strategisnya tidak hanya diukur dari angka penjualan semata. "Motor listrik nasional akan menjadi mesin industrialisasi jika ditempatkan sebagai bagian integral dari ekosistem yang menghubungkan manufaktur, baterai, komponen, infrastruktur pengisian dan penukaran baterai, pembiayaan, hingga layanan purnajual," ungkap Yannes.
Yannes menegaskan, peta jalan hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan nikel atau perakitan akhir saja. Nilai tambah terbesar justru akan tercipta ketika Indonesia mampu menguasai teknologi komponen inti. Ini termasuk baterai, motor penggerak, kontroler, Battery Management System (BMS), power electronics, hingga integrasi sistem secara keseluruhan. "Jika kandungan lokal terus diperdalam dan harga akhir tetap kompetitif tanpa bergantung pada subsidi permanen, motor listrik nasional berpotensi menjadi gerbang transformasi industri besar-besaran," tambahnya.
Senada dengan pandangan tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, melihat prospek Molinas untuk membangkitkan industri dan ekosistem sangat cerah. Kekuatan utama Indonesia terletak pada pasar domestik yang masif. Dari sekitar 140 juta unit sepeda motor yang beredar di Indonesia, dengan tambahan 6-7 juta unit pembelian baru setiap tahunnya, penetrasi motor listrik saat ini baru menyentuh angka satu persen.
"Indonesia memiliki modal yang sangat krusial untuk membangun industri, yaitu pasar domestik yang cukup besar untuk menciptakan skala produksi yang ekonomis," jelas Josua. Efek domino dari Molinas diperkirakan akan menyebar luas, mulai dari industri sel dan paket baterai, motor penggerak, komponen elektronik, rangka, ban, suku cadang, bengkel, stasiun pengisian dan penukaran baterai, sektor pembiayaan, hingga daur ulang.
Dari perspektif ketahanan energi, Molinas memegang peranan vital. Mengingat pengeluaran devisa negara untuk impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mencapai US$28 miliar hingga US$30 miliar per tahun, transisi ke motor listrik dapat mengurangi beban tersebut secara signifikan. "Motor listrik dapat berfungsi ganda sebagai kebijakan industri sekaligus kebijakan energi, asalkan produksi dalam negeri benar-benar mendalam dan bukan sekadar aktivitas perakitan," pungkas Josua.


