<strong>Faktual.news – </strong> Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) kini tengah tancap gas dalam memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional. Salah satu langkah strategis yang sedang digencarkan adalah intensifikasi Gerakan Tanam Serempak. Langkah ini diambil untuk memastikan lahan-lahan baru yang dihasilkan dari program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dapat segera produktif dan memberikan kontribusi nyata bagi ketersediaan pangan dalam negeri.
Upaya perluasan lahan ini bukan tanpa alasan. Di tengah ancaman perubahan iklim yang tidak menentu, meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat, serta masifnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri atau pemukiman, pemerintah merasa perlu memperkuat kapasitas produksi pangan secara mandiri. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, perluasan area sawah telah ditetapkan sebagai agenda prioritas jangka panjang.

Kementan sendiri telah menetapkan target ambisius untuk mencetak sawah baru seluas 225 ribu hektare pada tahun 2025 mendatang. Target ini akan tersebar di 20 provinsi di seluruh Indonesia. Namun, pemerintah menyadari bahwa membangun lahan saja tidak cukup. Tantangan utamanya adalah bagaimana memastikan lahan yang sudah dicetak tersebut segera ditanami agar tidak terbengkalai. Di sinilah peran Gerakan Tanam Serempak menjadi sangat krusial.
Sepanjang tahun 2026, gerakan ini telah menunjukkan progres yang signifikan dengan pelaksanaan sebanyak 14 kali di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua. Program ini melibatkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga keterlibatan aktif Brigade Pangan dan para petani di lapangan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar seremoni belaka. Menurutnya, ini adalah gerakan nasional untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan memperluas areal tanam secara masif. "Gerakan Tanam Serempak adalah upaya kolaboratif antara pemerintah, TNI-Polri, penyuluh, hingga petani untuk mempercepat produksi pangan," ungkap Idha dalam keterangan resminya.
Salah satu fokus utama dari strategi ini adalah meningkatkan frekuensi tanam. Jika sebelumnya sebuah lahan hanya mampu ditanami satu kali dalam setahun, melalui optimalisasi ini, pemerintah mendorong lahan tersebut agar bisa ditanami dua hingga tiga kali dalam setahun. Dengan target peningkatan indeks pertanaman hingga mencapai IP 250 bahkan IP 300, produktivitas lahan diharapkan melonjak tajam tanpa harus terus-menerus bergantung pada pembukaan lahan baru.
Untuk mendukung keberhasilan di lapangan, Kementan juga menyiapkan berbagai dukungan teknis. Mulai dari penyediaan benih unggul, distribusi pupuk, perbaikan sistem irigasi, hingga pemanfaatan teknologi mekanisasi pertanian. Program seperti sistem pompanisasi dan inisiatif "Listrik Masuk Sawah" juga digulirkan untuk membantu petani mengatasi kendala ketersediaan air, terutama saat menghadapi musim kemarau.
Dengan kombinasi antara perluasan lahan melalui program CSR dan optimalisasi lahan melalui gerakan tanam serempak, pemerintah optimis kapasitas produksi pangan nasional akan semakin tangguh. Keberhasilan swasembada pangan kini bukan lagi sekadar impian, melainkan target nyata yang sedang diperjuangkan melalui kolaborasi dan kerja keras di seluruh pelosok negeri.


