Faktual.news – Kondisi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Bali mendadak mencekam dalam beberapa hari terakhir. Sejak Senin (12/10), pemandangan antrean kendaraan yang mengular panjang menjadi pemandangan umum di berbagai titik strategis. Fenomena ini dipicu oleh kekosongan stok bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu, terutama Pertalite, yang kemudian memicu efek domino terhadap ketersediaan jenis BBM lainnya seperti Pertamax.
Kemacetan parah dilaporkan terjadi di kawasan padat penduduk, khususnya di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Akibat antrean yang tidak terkendali, arus lalu lintas di sekitar SPBU sempat mengalami gangguan signifikan. Menanggapi situasi yang mulai mengganggu mobilitas warga ini, aparat kepolisian dari Polsek Denpasar Selatan terpaksa turun ke jalan. Personel dikerahkan untuk mengatur ritme kendaraan agar antrean tidak meluap ke jalan raya utama dan mencegah kemacetan total.

Menanggapi keresahan masyarakat, Gubernur Bali I Wayan Koster memberikan penjelasan resmi. Ia menegaskan bahwa sebenarnya stok BBM di tingkat depo atau terminal tidak mengalami kelangkaan. Koster menyebutkan bahwa pasokan di Depo Manggis yang terletak di Kabupaten Karangasem serta Depo Pesanggaran di Denpasar dalam kondisi aman dan tersedia.
Menurut Koster, permasalahan utama bukan terletak pada ketersediaan stok di pusat penyimpanan, melainkan pada hambatan proses distribusi dari depo menuju SPBU-SPBU di lapangan. Kendala lalu lintas yang padat di jalur distribusi membuat pengiriman BBM dari depo ke SPBU mengalami keterlambatan sejak Senin sore hingga Selasa pagi. Selain itu, Koster menduga adanya fenomena panic buying atau kekhawatiran berlebih dari masyarakat. Warga yang takut kehabisan BBM cenderung mengisi tangki kendaraan secara bersamaan, sehingga stok di SPBU terkuras jauh lebih cepat dari biasanya.
Di sisi lain, pihak Pertamina turut mengambil langkah cepat untuk meredam gejolak. Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Bali atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia mengakui bahwa kendala teknis distribusi maupun lonjakan konsumsi tidak seharusnya mengganggu aktivitas harian warga.
Sebagai solusi konkret, Pertamina bersama Pertamina Patra Niaga telah menyusun strategi percepatan pemulihan distribusi. Langkah-langkah darurat yang disiapkan meliputi penambahan pasokan secara intensif serta pengoperasian sejumlah SPBU selama 24 jam penuh untuk mengejar ketertinggalan stok. Pemerintah Provinsi Bali dan Pertamina berkomitmen untuk memastikan distribusi kembali normal dalam waktu satu hingga dua hari ke depan, sembari mengimbau warga agar tetap tenang dan tidak melakukan penimbunan.


