Faktual.news – Ekonomi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius terkait kualitas pertumbuhan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Kepala Ekonom PT Permata Bank Tbk, Josua Pardede, menekankan pentingnya pemerintah untuk lebih selektif dalam menyalurkan insentif fiskal. Ia menyarankan agar pemerintah memprioritaskan pemberian insentif kepada sektor usaha padat karya guna menjaga stabilitas daya beli kelompok kelas menengah yang saat ini mulai rentan.
Menurut Josua, terdapat pergeseran tren ekonomi yang cukup mengkhawatirkan. Salah satu poin krusial adalah melambatnya pertumbuhan pendapatan riil masyarakat pascapandemi. Jika sebelum pandemi pertumbuhan pendapatan riil mampu menyentuh angka di atas 5 persen, kini tren tersebut merosot ke bawah angka 5 persen. Kondisi ini diperparah dengan arah investasi yang kini lebih banyak mengalir ke sektor jasa dan sektor padat modal.

Sektor padat modal memang memberikan kontribusi pada angka pertumbuhan ekonomi, namun sektor tersebut tidak memiliki kemampuan yang sama dalam menyerap tenaga kerja secara masif dibandingkan sektor padat karya. Hal ini menciptakan risiko struktural, di mana pertumbuhan ekonomi tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang merata.
"Pemerintah perlu mengarahkan dukungan atau insentif kepada sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Ini penting agar pendapatan masyarakat kelas menengah tetap terjaga," ujar Josua dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta.
Ia mengingatkan bahwa fokus pemerintah tidak boleh hanya terpaku pada angka pertumbuhan ekonomi semata. Kualitas pertumbuhan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kuantitas. Jika daya beli kelas menengah terus tertekan, dikhawatirkan akan terjadi penurunan status ekonomi masyarakat, di mana kelompok kelas menengah bisa merosot masuk ke dalam kelompok masyarakat miskin.
Membahas proyeksi ekonomi ke depan, Josua memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 2026 hingga 2027 akan tetap tangguh di kisaran 5,2 hingga 5,3 persen. Meskipun kondisi global masih penuh ketidakpastian, fondasi ekonomi domestik dinilai masih cukup kuat untuk menopang angka tersebut.
Terkait kebijakan moneter, Josua memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) akan berada di kisaran 6 persen pada akhir tahun 2027. Hal ini membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk kembali melakukan pengetatan kebijakan moneter, tergantung pada dinamika inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta biaya pembiayaan di pasar.
Ia juga memperkirakan inflasi akan tetap terkendali di level 3 persen. Namun, stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai. Nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi agar biaya pembiayaan tidak melonjak dan mengganggu stabilitas ekonomi domestik.


