Faktual.news – Gelombang investasi pusat data (data center) berskala besar, terutama yang berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kini tengah menjadi sorotan utama di Indonesia. Namun, di balik potensi ekonomi yang besar, muncul tantangan serius terkait kebutuhan daya listrik yang sangat masif. Menanggapi hal tersebut, Danantara Investment Management mengeluarkan instruksi tegas agar proyek-proyek raksasa ini tidak menjadi beban bagi stabilitas energi nasional.
Managing Director Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menekankan bahwa proyek pusat data dengan kapasitas listrik di atas 500 megawatt (MW) harus memiliki strategi kemandirian energi. Ia memperkenalkan konsep "Bring Your Own Energy" atau BYOD bagi para investor infrastruktur digital tersebut. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa kehadiran pusat data jumbo tidak akan mengganggu pasokan listrik yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan industri lain maupun kebutuhan rumah tangga masyarakat luas.

"Intinya, jika pusat data tersebut berskala besar, misalnya di atas 500 megawatt, kita menerapkan prinsip BYOD. Kita tidak ingin kehadiran proyek ini mengganggu stabilitas pasokan energi yang saat ini sudah digunakan untuk industrialisasi dan masyarakat di Indonesia," ujar Stefanus saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta.
Menurut Stefanus, perencanaan kebutuhan energi harus sudah matang sejak tahap awal pengembangan infrastruktur. Meskipun investor diperbolehkan menggunakan jaringan listrik dari PLN, ia menegaskan bahwa skema tarif yang diterapkan harus tetap menjamin keuntungan bagi PLN. Danantara ingin memastikan bahwa investasi infrastruktur digital tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga tetap menjaga kelayakan bisnis penyedia energi nasional dan kepentingan negara.
Selain persoalan energi, Danantara juga memberikan perhatian khusus pada aspek keberlanjutan lingkungan, terutama terkait konsumsi air yang sangat tinggi dalam operasional pusat data. Stefanus mendorong para pengelola untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan, seperti sistem sirkulasi tertutup (closed-loop water system), sistem pengolahan air (water treatment), hingga teknologi desalinasi.
"Kami ingin semua investasi dilakukan dengan cara yang benar dan tepat, baik untuk masyarakat maupun lingkungan. Dengan sistem sirkulasi tertutup, air dapat digunakan kembali sehingga kebutuhan akan sumber air baru dapat ditekan seminimal mungkin," tambahnya.
Sektor AI dan pusat data ini memang menjadi salah satu target investasi utama Danantara. Perusahaan berencana membawa berbagai peluang besar ini ke kancah internasional melalui ajang The New Asia Forum yang dijadwalkan berlangsung di Bali pada awal Desember 2026 mendatang. Forum tersebut diharapkan menjadi jembatan bagi investor global untuk menanamkan modalnya di Indonesia, khususnya pada sektor infrastruktur digital yang terintegrasi dengan dukungan energi dan air yang mumpuni.
Bagi Danantara, keberhasilan investasi ini tidak hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga dari dampak nyata terhadap penguatan infrastruktur digital nasional, penciptaan lapangan kerja, serta kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.


