Faktual.news – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui penguatan sektor hilirisasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa sektor mineral dan batu bara akan menjadi fokus utama dalam peta jalan hilirisasi pada tahun 2027 mendatang. Langkah strategis ini diambil guna memastikan kekayaan alam Indonesia tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi di dalam negeri.
Dalam sebuah forum ekonomi bertajuk BIG Downstream Insights 2026 yang digelar di Jakarta, Airlangga memaparkan ambisi besar pemerintah terkait target investasi nasional. Untuk tahun depan, pemerintah telah mematok target investasi yang sangat fantastis, yakni mencapai angka Rp2.900 triliun. Dari total angka tersebut, sekitar 40 persen diharapkan bersumber dari sektor hilirisasi, di mana komoditas mineral dan batu bara menjadi motor penggerak utamanya.

"Tahun depan target investasinya sekitar Rp2.900 triliun, dan itu mencakup sekitar 40 persen dari sektor hilirisasi. Tentu saja mineral dan batu bara menjadi prioritas, termasuk persiapan untuk pengembangan logam-logam lainnya," ujar Airlangga di hadapan para pelaku industri.
Ambisi hilirisasi ini bukan sekadar wacana jangka pendek. Pemerintah saat ini tengah mengawal pengembangan hilirisasi pada 28 komoditas strategis yang tersebar di delapan sektor berbeda. Proyek raksasa ini diperkirakan membutuhkan suntikan modal yang sangat besar, yakni mencapai US$618 miliar atau setara dengan Rp11.065 triliun jika menggunakan asumsi kurs Rp17.910 per dolar AS.
Besarnya investasi yang dikucurkan tersebut memiliki tujuan yang sangat jelas: meningkatkan kapasitas produksi nasional dan mendongkrak nilai ekspor secara masif. Airlangga menjelaskan bahwa jika seluruh rencana ini berjalan sesuai target, Indonesia berpotensi meningkatkan nilai ekspor hingga mencapai US$857 miliar. Hal ini akan memberikan nilai tambah ekonomi sebesar US$235,9 miliar bagi negara.
Saat ini, nilai ekspor Indonesia tercatat sudah mendekati angka US$500 miliar. Dengan implementasi hilirisasi yang konsisten dan terintegrasi, pemerintah optimis bahwa angka ekspor tersebut dapat meningkat hingga dua kali lipat.
Menariknya, program hilirisasi ini tidak hanya terpaku pada sektor pertambangan. Airlangga menekankan bahwa pemerintah juga memberikan perhatian serius pada sumber daya alam terbarukan. Sektor-sektor seperti kelapa sawit, karet, kelapa, hingga sektor pertanian juga akan masuk dalam radar pengembangan industri hilir.
Strategi komprehensif ini diharapkan mampu memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dengan mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi, Indonesia tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam yang melimpah.


