Faktual.news – Menteri Perindustrian yang baru saja dilantik, Muhammad Sarmuji, menegaskan komitmennya untuk segera melakukan pemetaan menyeluruh terhadap berbagai persoalan yang menghambat sektor industri di tanah air. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui sektor manufaktur.
Sarmuji menekankan bahwa fokus utama kementeriannya ke depan adalah memprioritaskan sektor-sektor industri yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi. Menurutnya, industri tidak boleh hanya sekadar berjalan, tetapi harus mampu menjadi mesin penggerak atau leverage bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta solusi bagi ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat luas.

"Sektor industri itu harus menjadi daya ungkit bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan lapangan kerja. Oleh karena itu, kita harus mencari akar permasalahannya terlebih dahulu, lalu melakukan perbaikan satu per satu secara sistematis," ujar Sarmuji saat memberikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (1/10).
Sebagai langkah konkret, Sarmuji menyoroti sektor-sektor padat karya yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja, seperti industri tekstil dan industri alas kaki atau sepatu. Kedua sektor ini dinilai sangat krusial karena melibatkan jutaan pekerja, namun saat ini menghadapi berbagai tantangan kompetisi dan efisiensi yang perlu segera dibenahi agar tetap kompetitif di pasar global.
Lebih lanjut, Sarmuji menyadari bahwa tantangan di sektor industri sangat kompleks dan tidak bisa diselesaikan oleh Kementerian Perindustrian secara parsial. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral dengan berbagai kementerian terkait untuk menciptakan ekosistem industri yang sehat.
Dalam rencana kerjanya, Sarmuji akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Investasi untuk memastikan aliran modal di sisi hulu berjalan lancar. Ia juga akan bersinergi dengan Kementerian Perdagangan guna meninjau kembali kebijakan impor, terutama untuk memastikan bahwa produk-produk yang dapat diproduksi di dalam negeri tidak tergerus oleh arus barang impor yang tidak terkendali.
Selain itu, peran Kementerian Keuangan akan sangat vital dalam pembahasan pemberian berbagai insentif fiskal agar industri nasional dapat tumbuh lebih cepat. Sarmuji juga mengaitkan pengembangan industri ini dengan agenda besar pemerintah dalam melakukan hilirisasi. Ia menilai industri manufaktur dan hilirisasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Terkait struktur organisasi pemerintahan yang baru, Sarmuji menyebut adanya kemungkinan Kementerian Perindustrian akan berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Meski demikian, ia mengaku masih menunggu kepastian mengenai struktur kabinet tersebut.
Sarmuji sendiri resmi menjabat sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. Sebelum dipercaya mengemban amanah di kabinet, ia memiliki rekam jejak politik yang kuat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar periode 2024-2029 dan pernah menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI.


