Faktual.news – Persoalan sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kini tengah bertransformasi menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Melalui proyek ambisius Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Kertapati, pemerintah tidak hanya berupaya membersihkan kota, tetapi juga menyiapkan mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Proyek strategis ini diproyeksikan mampu menyerap hingga 1.000 tenaga kerja, sebuah angka yang signifikan untuk menggerakkan roda ekonomi daerah. Penyerapan tenaga kerja ini tidak hanya terbatas pada teknisi di dalam fasilitas pengolahan, namun juga mencakup rantai pasok di sektor hulu, mulai dari pengelolaan sampah di tingkat komunitas hingga logistik pengangkutan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang meninjau langsung lokasi pembangunan pada Rabu (4/11), menyatakan optimisme tinggi terhadap proyek ini. Menurutnya, PSEL adalah bukti nyata bagaimana masalah lingkungan dapat diubah menjadi nilai tambah yang positif bagi masyarakat. Dengan teknologi waste to energy, sampah yang semula dianggap limbah berbahaya kini berubah menjadi sumber energi listrik yang bermanfaat.
Hingga saat ini, progres pembangunan fisik fasilitas PSEL Palembang telah mencapai angka 96 persen. Dengan nilai investasi mencapai 160 juta dolar AS atau setara dengan Rp3 triliun, proyek ini menggunakan skema Build Own Operate (BOO). Fasilitas yang berdiri di atas lahan seluas 8 hektare ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 8 Desember 2026 mendatang.
Menariknya, meskipun target operasional penuh masih beberapa waktu lagi, fasilitas ini telah memasuki tahap uji coba atau commissioning. Bahkan, aliran listrik yang dihasilkan sudah mulai masuk ke jaringan PT PLN (Persero). Kapasitas pembangkit yang awalnya dirancang sebesar 17,7 megawatt (MW) kini berpotensi meningkat hingga mencapai 20 MW pada kondisi puncak.
Secara teknis, PSEL Palembang dirancang untuk mengolah sekitar 1.000 ton sampah setiap harinya. Kapasitas ini sangat krusial mengingat timbulan sampah di Palembang mencapai lebih dari 1.260 ton per hari. Jika beroperasi optimal, listrik yang dihasilkan mampu menerangi sekitar 12.000 hingga 14.000 rumah tangga.
Selain manfaat energi, proyek ini menjadi langkah preventif terhadap ancaman lingkungan seperti emisi gas metana, penyebaran mikroplastik, hingga risiko kebakaran di tempat pembuangan akhir. Untuk menjaga keberlanjutan proyek, pemerintah juga tengah menyiapkan transisi regulasi melalui penyesuaian Peraturan Presiden guna menjamin aspek hukum dan operasional di masa depan.
Dari sisi pendanaan, Pemerintah Kota Palembang telah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp90 miliar untuk tahun 2027 guna mendukung biaya layanan pengolahan sampah (tipping fee). Dengan integrasi antara teknologi canggih, dukungan regulasi, dan investasi besar, PSEL Palembang diharapkan menjadi model nasional dalam mengubah limbah perkotaan menjadi sumber kemakmuran ekonomi.


