Faktual.news – Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk mendatangkan rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang resmi dibatalkan. Alih-alih mengandalkan armada tua dari luar negeri, perusahaan pelat merah ini telah membulatkan tekad untuk melakukan pengadaan unit baru guna meningkatkan kualitas layanan transportasi publik bagi masyarakat.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil demi memberikan fasilitas terbaik bagi para penumpang. Menurutnya, penggunaan armada baru jauh lebih menjamin kenyamanan dan keamanan dibandingkan harus menggunakan unit bekas. Keputusan penting ini disampaikan Bobby setelah menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.

"Kami tidak akan mengimpor KRL bekas. Prinsipnya, untuk kepentingan rakyat, kita harus menyediakan yang baru," tegas Bobby dalam keterangannya kepada media.
Sebagai langkah konkret, KAI berencana menambah 23 rangkaian atau trainset baru dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Menariknya, strategi pengadaan ini tidak hanya sekadar membeli barang jadi, tetapi juga mengedepankan penguatan industri manufaktur nasional. Bobby menjelaskan bahwa sebagian besar pengadaan akan melibatkan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.
Lebih lanjut, KAI juga membuka pintu kerja sama dengan produsen kereta api global. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh mitra luar negeri tersebut, yakni wajib melakukan transfer teknologi dan melibatkan industri dalam negeri dalam proses produksinya. Hal ini bertujuan agar kemandirian teknologi perkeretaapian nasional dapat terus tumbuh seiring dengan bertambahnya armada.
Dari total 23 trainset yang direncanakan, Bobby menyebutkan bahwa terdapat delapan rangkaian yang masuk dalam kategori kebutuhan mendesak (urgent). Delapan unit ini harus segera dipenuhi untuk mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang yang terus meroket setiap tahunnya.
Sebelumnya, wacana impor KRL bekas sempat muncul sebagai solusi darurat untuk menutupi kekurangan armada di wilayah Jabodetabek. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan jumlah penumpang yang mencapai 11,3 persen pada semester pertama tahun ini, di mana jumlah penumpang harian kini telah menembus angka 1,1 juta orang. Di sisi lain, kondisi armada saat ini cukup memprihatinkan karena rata-rata usia kereta yang beroperasi telah melampaui 41 tahun.
Kebutuhan akan armada baru memang menjadi sangat krusial mengingat pada tahun 2026 mendatang, sebanyak 13 rangkaian kereta harus dipensiunkan karena faktor usia. Dengan target kebutuhan operasional mencapai 105 trainset pada 2026, sementara stok yang tersedia hanya 102 rangkaian, KAI dituntut bergerak cepat untuk memastikan tidak terjadi krisis sarana transportasi di masa mendatang.


