faktual.news – Mata uang kebanggaan Indonesia, rupiah, kembali menunjukkan performa yang kurang memuaskan pada pembukaan perdagangan Jumat pagi. Nilai tukar rupiah tergelincir ke level Rp17.585 per dolar Amerika Serikat, melemah sebanyak 38 poin atau setara dengan 0,22 persen dari posisi penutupan sebelumnya.
Di tengah gejolak ini, pergerakan mata uang lain di kawasan Asia menampilkan pola yang beragam. Yen Jepang dan Yuan China berhasil menguat tipis, masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,03 persen. Senada, Won Korea Selatan juga menunjukkan penguatan 0,22 persen, diikuti oleh Dolar Singapura dan Dolar Hong Kong yang sama-sama naik 0,01 persen. Namun, tidak semua mata uang Asia beruntung, Baht Thailand dan Peso Filipina justru ikut melemah, masing-masing 0,13 persen dan 0,33 persen.

Sementara itu, di pasar global, mata uang utama negara maju juga bergerak tidak seragam. Euro Eropa mencatat kenaikan tipis 0,01 persen. Di sisi lain, Poundsterling Inggris dan Franc Swiss harus rela turun, masing-masing 0,02 persen dan 0,04 persen. Dolar Australia sedikit menguat 0,03 persen, sedangkan Dolar Kanada melemah 0,04 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti bahwa pelemahan rupiah ini tak lepas dari kembali menguatnya dolar AS. Faktor pemicunya adalah kenaikan imbal hasil obligasi AS serta lonjakan harga minyak dunia. Lukman menjelaskan, sentimen pasar global masih diselimuti kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi yang berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman Leong memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni antara Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS. Investor dan pelaku pasar diminta untuk tetap waspada terhadap dinamika global yang terus berubah.


