faktual.news – Harga minyak mentah global kembali menggila melampaui level 100 dolar AS per barel, sebuah pencapaian yang menandai rekor tertinggi dalam hampir empat bulan terakhir. Lonjakan fantastis ini didorong oleh meningkatnya kecemasan akan terganggunya pasokan energi dunia akibat eskalasi konflik di jalur pelayaran vital Timur Tengah.
Mengutip laporan terbaru, minyak Brent tercatat melonjak 1 persen atau 1,05 dolar AS, mencapai 108,68 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tak ketinggalan, ikut terkerek 1 persen atau 95 sen, bertengger di angka 103,45 dolar AS per barel. Kedua patokan harga ini sebelumnya sudah melesat lebih dari 6 persen pada perdagangan hari sebelumnya, dan secara mingguan, masing-masing telah menguat hampir 13 persen, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli lalu.

Pemicu utama gejolak harga ini adalah memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah, khususnya ancaman terhadap jalur distribusi minyak. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, baru-baru ini dilaporkan berhasil menguasai pelabuhan Mocha di Yaman, menambah daftar panjang risiko bagi lalu lintas kapal di Laut Merah yang krusial.
Tak hanya itu, aktivitas pelayaran di Teluk juga masih terhambat oleh kekacauan di Selat Hormuz, sebuah choke point vital bagi pasokan minyak global. Serangan terhadap kapal tanker di wilayah tersebut juga dilaporkan kian intensif dalam beberapa hari terakhir, memperparah ketidakpastian.
Eskalasi konflik semakin meluas dengan serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius bahwa gangguan pasokan minyak dapat berlangsung lebih lama dan berpotensi merembet ke berbagai kawasan lain, menciptakan krisis energi global yang lebih dalam.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut angkat bicara, memperingatkan kemungkinan serangan AS terhadap Pickaxe Mountain di Iran, lokasi yang berdekatan dengan fasilitas pengayaan uranium Natanz yang sebelumnya telah mengalami kerusakan parah. Trump juga mengisyaratkan bahwa konflik ini akan mereda setelah pemilihan sela AS pada November mendatang.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, memprediksi bahwa harga minyak berpotensi kembali menguji level puncaknya jika ketegangan terus memburuk. "Dengan situasi yang terus memanas dan Iran menunjukkan kesiapan untuk memperluas serta memperpanjang konflik ini selama dan seluas mungkin, kemungkinan minyak mentah WTI kembali menguji level tertinggi 119,48 dolar AS yang dicapai pada awal Maret semakin besar," jelas Sycamore.
Di tengah kegelisahan pasokan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) justru kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2026. Pemangkasan sebesar 380 ribu barel per hari (bph) ini menjadi revisi turun kelima kalinya secara berturut-turut, sebuah indikasi adanya ketidakpastian jangka panjang di pasar.


