Faktual News – Mengawali perdagangan hari ini, Selasa (16/12/2025), nilai tukar rupiah terpantau bergerak di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah tipis di level Rp16.671 per dolar Amerika Serikat (AS), mengalami depresiasi sebesar 0,02 persen dibandingkan posisi penutupan kemarin di Rp16.667 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan sikap kehati-hatian pasar yang tengah mencermati dinamika ekonomi global dan antisipasi kebijakan Bank Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah sejalan dengan sentimen pasar global yang cenderung lesu, terutama di Wall Street. Investor global tampak menahan diri (wait and see), mencermati rilis serangkaian data ekonomi krusial dari Amerika Serikat. Data-data tersebut meliputi tingkat pengangguran, penjualan ritel, aktivitas bisnis, hingga inflasi, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Proyeksi menunjukkan bahwa tingkat pengangguran AS pada November 2025 berpotensi naik menjadi 4,5 persen dari 4,4 persen pada September. Kenaikan ini mengisyaratkan pelonggaran bertahap di pasar tenaga kerja, yang dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan yang terlalu hawkish. Di sisi lain, penjualan ritel AS diprediksi hanya tumbuh 0,1 persen secara bulanan (mtm) pada Oktober 2025, melambat dari 0,2 persen di bulan sebelumnya. Perlambatan ini mengindikasikan adanya tekanan pada daya beli konsumen akibat tingginya biaya hidup dan suku bunga.
"Meskipun konsumsi ritel lebih lemah, inflasi AS kemungkinan akan tetap tinggi karena inflasi sektor jasa yang terus-menerus dan biaya struktural berbasis upah. Kondisi ini mendorong The Fed untuk mempertahankan pendekatan yang bergantung pada data dan hati-hati terhadap pelonggaran kebijakan. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan akan tetap relatif tinggi," ujar Andry, Selasa, 16 Desember 2025.
Antisipasi Pasar Terhadap Kebijakan Bank Indonesia
Tak hanya sentimen global, Andry menambahkan bahwa pelaku pasar domestik juga menantikan hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung esok hari. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak eksternal. Dengan sikap kebijakan yang cenderung stabil, diharapkan arus masuk modal asing ke pasar domestik dapat terus berlanjut, memberikan dukungan bagi rupiah.
Melihat berbagai faktor tersebut, Andry Asmoro memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang terbatas sepanjang perdagangan hari ini. "Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp16.642 hingga Rp16.691 per dolar AS," pungkasnya. Pasar kini menanti dengan seksama setiap petunjuk dari kedua bank sentral, baik The Fed maupun BI, yang akan sangat menentukan arah pergerakan mata uang dan sentimen investasi ke depan.
Editor: Yulian Saputra
