Faktual News , Jakarta – Mata uang Garuda menunjukkan performa positif di awal perdagangan Jumat (12/12/2025), dengan nilai tukar rupiah yang dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah tercatat pada level Rp16.663 per dolar AS, mengukir kenaikan tipis 0,08 persen dari penutupan sebelumnya di Rp16.676 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen global yang dipengaruhi kebijakan moneter bank sentral AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti keputusan Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga acuan. The Fed menurunkan suku bunga menjadi 3,50 hingga 3,75 persen, sebuah level yang tidak terlihat dalam tiga tahun terakhir, sesuai ekspektasi pasar. Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) The Fed mengindikasikan bahwa mayoritas anggota komite memproyeksikan suku bunga dana federal untuk tahun depan akan berada di kisaran 3,4 persen, menyiratkan potensi pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) di tahun mendatang.

"Untuk jangka panjang setelah tahun 2028, pembuat kebijakan The Fed melihat suku bunga netral di sekitar 3 persen," jelas Ibrahim pada Jumat, 12 Desember 2025, seperti dilansir Faktual News . Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam konferensi persnya, menekankan perlunya waktu untuk mengevaluasi dampak dari tiga kali pemotongan suku bunga yang telah dilakukan tahun ini terhadap perekonomian AS. Ia juga menambahkan bahwa para pejabat The Fed akan memantau ketat data ekonomi yang masuk menjelang pertemuan berikutnya pada Januari.
Di sisi lain, dari lanskap domestik, ada sedikit awan mendung. Bank Pembangunan Asia (ADB) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk tahun 2025, proyeksi dipangkas dari 5 persen menjadi 4,9 persen, dan untuk 2026 dari 5,1 persen menjadi 5 persen. Angka-angka ini lebih rendah dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menargetkan pertumbuhan 5,2 persen di 2025 dan 5,4 persen di 2026.
"Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2025 dan 2026 dikarenakan tarif tinggi yang dikenakan AS. Hal itu menyebabkan ketidakpastian perdagangan yang diperkirakan akan membebani pertumbuhan," terang Ibrahim.
Menimbang dinamika global dan domestik tersebut, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan fluktuatif. Ia memperkirakan mata uang rupiah akan ditutup melemah di rentang Rp16.670 hingga Rp16.710 per dolar AS pada akhir perdagangan.
