Faktual News – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan di awal perdagangan Jumat (13/3/2026), tertekan oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mata uang Garuda dibuka pada level Rp16.923 per dolar AS, mencatat depresiasi sebesar 0,18 persen dari penutupan sebelumnya di Rp16.893 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa pasar keuangan global sedang merasakan dampak langsung dari memanasnya situasi di Timur Tengah. "Pemimpin tertinggi baru Iran telah menegaskan kembali niat untuk menutup Selat Hormuz, serta menyatakan bahwa konflik akan terus berlanjut karena alasan strategis," ujar Andry pada Jumat, 13 Maret 2026. Pernyataan ini, menurutnya, telah memicu lonjakan harga minyak dunia, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi secara global.

Selain itu, pasar obligasi pemerintah AS juga menunjukkan tekanan. Imbal hasil obligasi terimbas kekhawatiran terhadap prospek fiskal Amerika Serikat, terutama dengan adanya peningkatan belanja pertahanan yang signifikan. Di tengah ketidakpastian ini, dolar AS justru menguat terhadap berbagai mata uang utama di pasar global, menambah beban bagi rupiah.
Menanti Sinyal dari The Fed dan Data Ekonomi AS
Pelaku pasar kini menanti keputusan Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan pekan depan. Mayoritas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga Fed Funds Rate. Namun, perhatian utama investor akan tertuju pada proyeksi suku bunga terbaru yang akan dirilis The Fed, mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan. Andry Asmoro memprediksi bahwa pasar saat ini hanya mengantisipasi satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang kemungkinan besar akan terjadi pada September 2026.
Investor juga bersiap menghadapi serangkaian data ekonomi penting dari AS yang dijadwalkan rilis. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Januari, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed, dijadwalkan rilis hari ini. "Meskipun data PCE Januari belum sepenuhnya mencerminkan dampak perang Iran, rilis ini tetap krusial untuk mengukur tekanan inflasi," tambah Andry. Selain itu, pasar juga akan mencermati revisi pertama pertumbuhan PDB AS kuartal IV serta data kepercayaan konsumen untuk bulan Maret, yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kesehatan ekonomi Negeri Paman Sam.
Untuk pergerakan rupiah hari ini, Andry memperkirakan akan berada dalam kisaran Rp16.874 hingga Rp16.946 per dolar AS, mencerminkan volatilitas yang dipicu oleh sentimen global dan data ekonomi yang akan datang.


