Faktual News Pagi ini, IHSG mengawali perdagangan dengan performa yang cukup mengejutkan. Indeks melesat 0,47 persen ke angka 7.077,98, meningkat dari posisi penutupan kemarin di 7.044,82. Lonjakan ini terjadi di tengah volume perdagangan yang cukup signifikan, yakni 250,65 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp307,88 miliar. Dari total saham yang diperdagangkan, 205 saham mencatat penguatan, sementara 61 saham terkoreksi dan 260 saham stagnan.
Analis dari Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, melihat pergerakan ini sebagai sebuah rebound yang telah diprediksi sebelumnya. Ia memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.950 hingga 7.130. Prediksi ini muncul di tengah beberapa sentimen yang cukup beragam. Di satu sisi, pasar saham Indonesia telah mengalami koreksi selama tiga hari berturut-turut, dan investor asing masih mencatatkan outflow sebesar Rp736,18 miliar kemarin. Data ekonomi domestik pun menunjukkan beberapa kelemahan, seperti penyusutan surplus neraca dagang pada April 2025 menjadi USD 0,16 miliar, turun drastis dari USD 4,33 miliar di bulan sebelumnya. Meskipun demikian, surplus neraca dagang selama 60 bulan berturut-turut tetap menjadi penopang ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun, kabar baik datang dari Wall Street yang ditutup menguat. Optimisme ini didorong oleh rencana pertemuan antara Presiden AS dan Tiongkok untuk membahas kembali ketegangan tarif. Di sisi lain, data Indeks PMI manufaktur Caixin China menunjukkan angka kontraksi di level 48,3 pada Mei 2025, menandakan pelemahan aktivitas industri Negeri Tirai Bambu untuk pertama kalinya dalam delapan bulan terakhir. Perkembangan ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri bagi pelaku pasar. Bagaimana IHSG akan bereaksi terhadap dinamika global dan domestik ini akan menjadi sorotan menarik dalam perdagangan selanjutnya.
