faktual.news – Presiden terpilih Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan petani Indonesia. Dalam sebuah acara penting di Gorontalo, Prabowo dengan tegas mengingatkan bahwa lonjakan ekspor komoditas pangan dan pupuk tidak boleh mengorbankan keuntungan para petani di Tanah Air. Ia menekankan bahwa setiap transaksi ekspor harus memastikan harga yang diterima petani tetap menguntungkan, bukan merugikan.
Pernyataan ini muncul seiring meningkatnya permintaan global terhadap hasil bumi dan pupuk dari Indonesia, berkat peningkatan produksi domestik yang signifikan. "Banyak negara meminta beras dan jagung dari kita. Silakan, asalkan harganya sesuai. Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman) harus memastikan petani tidak merugi," ujar Prabowo, memberikan penekanan khusus pada peran Kementerian Pertanian.

Indonesia kini telah menjelma menjadi eksportir berbagai produk pertanian dan pupuk ke berbagai negara. Bahkan, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese secara pribadi menghubungi Prabowo untuk meminta pasokan pupuk dari Indonesia. "Saya katakan, ‘jual, kirim ke mereka’," tutur Prabowo, menunjukkan pengakuan internasional terhadap kapasitas produksi Indonesia.
Menurut Prabowo, banyaknya negara yang membutuhkan pupuk dan pangan dari Indonesia adalah indikator kuat peningkatan kapasitas produksi nasional. Hal ini tidak lepas dari dorongan pemerintah untuk mencapai swasembada pangan. Dengan posisi ini, Indonesia kini memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dalam menghadapi ketidakpastian global, termasuk gejolak geopolitik dan gangguan rantai pasok. "Kita percaya diri akan mampu mengatasi tantangan global," tambahnya.
Peluang ekspor beras dan pupuk Indonesia memang sedang terbuka lebar. Perum Bulog saat ini tengah menjajaki pengiriman 200 ribu ton beras ke Malaysia, dengan potensi nilai transaksi mencapai sekitar Rp2 triliun. Selain Malaysia, pemerintah juga membidik pasar lain seperti Filipina, Papua Nugini, dan Arab Saudi. Sebelumnya, Indonesia telah merealisasikan ekspor perdana beras sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi pada awal tahun ini.
Di sektor pupuk, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan rencana ekspor pupuk urea ke Australia secara bertahap, dengan potensi nilai fantastis mencapai Rp7 triliun. Tahap awal pengiriman telah dilakukan dari Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, berupa 47.250 ton pupuk urea senilai sekitar Rp600 miliar. Tak hanya Australia, sejumlah negara lain seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh juga telah menyatakan minat untuk membeli pupuk urea dari Indonesia, menandai era baru bagi pertanian dan industri pupuk nasional.


