Faktual News – Terpaan badai geopolitik global kian terasa mengguncang pasar keuangan Indonesia. Konflik yang memanas di Timur Tengah, yang memicu lonjakan harga minyak dunia, turut menciptakan tekanan signifikan pada kondisi fiskal dan inflasi global. Imbasnya, pasar modal domestik dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan volatilitas yang substansial, memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Situasi ini, diakui Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, dalam diskusi dengan para redaktur media massa di Jakarta pada Selasa (10/3), kerap mendorong investor untuk mengambil langkah defensif. Fenomena flight to quality, atau pengalihan investasi ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), menjadi respons lazim investor di tengah ketidakpastian.

Dampak gejolak ini juga nyata terlihat di pasar saham Indonesia. Hasan menjelaskan, setelah pengumuman dari MSCI pada akhir Januari, pasar saham domestik mengalami volatilitas cukup tinggi. Kondisi tersebut berlanjut hingga Maret, seiring dengan eskalasi geopolitik yang semakin memanas. Padahal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat memukau pada akhir tahun lalu, melonjak hingga 22 persen mencapai 8.646 pada akhir 2025. Bahkan, pada Januari 2026, indeks masih sempat menunjukkan kenaikan sebelum akhirnya terguncang oleh pengumuman MSCI. Memasuki Maret, IHSG terkoreksi ke level 7.585, atau sekitar 12,27 persen lebih rendah dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
Meskipun indeks mengalami tekanan, Hasan menilai aktivitas perdagangan di pasar saham justru tetap menunjukkan resiliensi yang kuat. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sepanjang tahun berjalan meningkat signifikan. "Per 6 Maret, RNTH secara year to date naik 65,31 persen menjadi Rp29,87 triliun. Ini menunjukkan aktivitas pasar sebenarnya masih sangat baik," jelasnya.
Optimisme juga datang dari investor asing yang masih melihat peluang di pasar domestik. Hasan menyebut, hingga 6 Maret, investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp2,23 triliun. Selain itu, dana kelolaan atau asset under management (AUM) di industri reksa dana juga terus bertumbuh. "AUM di manajer investasi naik 7,14 persen secara year to date menjadi Rp1.117 triliun," imbuh Hasan.
Alih-alih terlarut dalam tekanan, OJK justru memandang situasi ini sebagai momentum emas untuk mengakselerasi reformasi pasar modal. Hasan mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan delapan rencana aksi komprehensif untuk memperkuat integritas pasar modal Indonesia. Rencana ini mencakup berbagai kebijakan baru, mulai dari aturan terkait free float, peningkatan transparansi kepemilikan saham, hingga penguatan tata kelola emiten. "Momentum ini kita jadikan untuk memperbaiki pasar modal Indonesia. Delapan rencana aksi itu adalah bauran kebijakan untuk mereformasi pasar modal kita," ujarnya.
Salah satu fokus utama reformasi adalah peningkatan transparansi kepemilikan saham. OJK berkomitmen untuk membuka data kepemilikan saham hingga level di atas 1 persen, serta memperluas klasifikasi investor agar lebih rinci. Selain itu, OJK juga mendorong peningkatan rasio free float saham dari 7,5 persen menjadi minimal 15 persen secara bertahap.
Untuk memastikan percepatan dan efektivitas reformasi, OJK juga akan membentuk satuan tugas khusus yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah. "Reformasi integritas ini bukan untuk kepentingan sesaat, tapi untuk dampak jangka panjang bagi pasar modal nasional," tegas Hasan.
Ia menambahkan, OJK juga tengah menyiapkan langkah demutualisasi bursa efek. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan independensi, serta meminimalkan potensi benturan kepentingan di industri pasar modal, demi menciptakan ekosistem investasi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

